Entri Populer

Selasa, 28 April 2020

TEST 2 Sosialisasi, penyimpangan sosial, dan pengendalian sosial

Bacalah ilustrasi cerita sosiologi untuk menjawab nomor 1 – 8 kemudian jawab pertanyaannya! 

Membangun Rumah-rumahan

Di kampung Durian Runtuh yang tenang dan asri hidup anak-anak yang menggemaskan. Setiap anak lahir dari keluarga yang memiliki ciri keunikan masing-masing. Ada keluarga yang berasal dari Melayu, India, dan China. Begitu pula disetiap keluarga menerapkan cara membesarkan anak sesuai dengan adat istiadatnya.
Upin dan Ipin tinggal bersama Kak Ros dan Opah (nenek) yang membesarkannya, karena ayah dan ibunya telah meninggal sejak mereka bayi. Untuk membesarkan Upin dan Ipin Kak Ros cenderung lebih tegas dan galak ketika Upin dan Ipin nakal, semisal ketika Upin dan Ipin tidak mau belajar, bisa dijewer sama Kak Ros, namun berbeda dengan Opah yang masih toleran ketika Upin dan Ipin nakal.
Upin dan Ipin memiliki banyak teman, seperti Jarjit, Fizi, Ehsan, Ismail, dan Mei Mei. Pada suatu saat mereka membangun rumah-rumahan di lapangan di tempat biasa mereka main. Jarjit berpantun “dua tiga buah durian montong, mari kita bangun rumah gedong”, berpantun kebiasaan Jarjit karena orang tuanya memasukan dia ke Sanggar Seni Melayu dan jika dia menolak sering mendapat sanksi.
Ketika membangun sebuah rumah-rumahan Upin dan Ipin terlihat sangat kotor dan berantakan, lalu mereka ditegur sama Fizi kalau rumah yang dibuat haruslah rapih dan bersih agar penghuninya juga sehat. Fizi dikenal anak yang suka menjaga kebersihan karena oleh orangtuanya yang selalu menasehatinya. Kemudian Upin dan Ipin menuruti pesan dari Fizi untuk merapihkan rumah-rumahannya.
Berbeda dengan Mei Mei saat membangun rumah-rumahan, Mei Mei terlebih dahulu membaca majalah Feng Shui tentang konsep rumah yang nyaman. Kemudian Mei Mei mendapat banyak pengetahuan dari majalah dan membangun rumah-rumahan tersebut. Sehingga teman-temannya melihat bahwa rumah yang dibangun lebih bagus dari pada yang lain.



Ilustrasi Cerita Sosiologi T1 Nilai dan Norma sosial

Korban Pencurian yang Baik Hati 


Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun berkat penyesalan itu, Roy (25), pemulung yang tertangkap basah mencuri gorengan di sebuah warung kelontong, akhirnya dimaafkan korbannya. Akibatnya, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung itu bebas dari tuntutan hukum dan diizinkan pulang dari kantor polisi. 

Percobaan pencurian itu terjadi di Teluk RT 06 RW 07, Neka Jaya, Kecamatan Neka Timur. Saat itu Roy masuk ke warung milik Ny. Habibah (50) yang sedang tidak dijaga. Setelah mengambil empat gorengan, Roy langsung pergi ketakutan saat melihat Habibah datang ke warungnya. Keruan saja Habibah meneriaki “maling” ketika melihat Roy langsung lari dengan gorengan di tangan kanan dan kirinya. 

Mendengar teriakan itu, Roy berusaha lari sambil menjatuhkan gorengan. Warga mengejar dan menangkap pemulung itu dan menghakimi Roy dengan pemukulan. Namun, Habibah tampaknya tidak tega melihat Roy dipukuli. Ia berusahan menghentikan tindakan anarkis massa dengan melindunginya dari amukan. Akibatnya, Habibah kena pukulan di tangannya. 

Dalam perlindungan Habibah juga Roy akhirnya selamat, kemudian pihak kepolisian datang dengan membawanya ke kantor polisi terdekat. Mungkin karena terharu atas kebaikan Habibah juga, Roy pun menangis sesunggukan sepanjang perjalanan itu. Ketika Habibah datang ke kantor polisi untuk keperluan pemeriksaan, tangis Roy seakan pecah, kemudian bersimpuh sambil memeluk kaki kiri Habibah yang saat itu sudah duduk di depan polisi. 

Sambil terisak-isak, Roy berkata bahwa baru pertama kali itu dia mencuri. Permintaan maaf pun terus terlontarkan kepada Habibah. Untuk lebih menyakinkan, Roy bahkan bersedia membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatanya. Kalau perlu, ia juga bersedia mengganti harga empat gorengan dengan uang yang ada disakunya. “Saya kalut, sudah tidak bisa berpikir apa-apa. Saya bingung karena butuh uang buat biaya anak saya yang sakit”, katanya disela isak tangis. 

Lebih lanjut ia menyatakan sudah dua hari memulung, tetapi hasilnya cuma Rp50.000. Padahal dia butuh Rp.100.000 untuk memeriksa Ria (1), anaknya yang sejak lahir sering step. Rupanya pengakuan Roy membuat Habibah luluh. Dimata Habibah, lelaki kurus dengan pakaian lusuh itu tidak berpura-pura agar dibebaskan. Maka, didepan polisi Habibah menyatakan tidak akan menuntut Roy asal dia berjanji tidak mengulangi perbuatanya dengan alasan apa pun. Roy pun merasa lega. Roy terus bersimpuh dilantai dengan kepala tunduk dan berurai air mata sambil mengatakan terima kasih kepada Habibah. Akhirnya Roy dizinkan pulang dari kantor polisi dan selalu ingat janji untuk tidak mencuri untuk alasan apapun.

Sumber: Kun Maryati dkk, Sosiologi untuk SMA Kelas X, Esis, hal.46-47

Senin, 06 April 2020

Analisa sosiologi: Pandemi Covid-19 di Indonesia.

Disclaimer: Ini adalah hasil tulisan siswa-siswi SMA Global Prestasi pada Home Learning Activity Program yang merespon tentang Pandemi Covid-19 di Indonesia dari sudut pandang sosiologi. 

Kita ketahui bahwa pandemi covid-19 di Indonesia semakin meluas dan menjadi masalah sosial, keberadaan virus ini faktanya dapat ditinjau dari mikroskop sosiologi. Ketika terjadi dinamika di masyarakat tentu bisa ditinjau dari teori-teori sosiologi walaupun itu episentrumnya berasal dari disiplin ilmu biologi. Tugas Anda sebagai masyarakat yang ber-sosiologi, harus peka dan kritis menyikapi dinamika ini. Tuliskan analisa Anda, berlandaskan teori-teori sosiologi untuk merespon wabah dari makhluk superkecil ini.

Oleh: Michelle Regina


Pada Januari 2020, seluruh dunia digemparkan dengan keberadaan virus corona dan ditemukan pertama kali di Wuhan, China. Tidak butuh waktu yang lama bagi virus corona untuk menyebar ke seluruh dunia. Hingga akhirnya seluruh dunia mengalami pandemi COVID-19 dan mengakibatkan perekonomian maupun kehidupan sosial menjadi berantakan dan tidak terkendali. Virus corona yang merebak ini menjadi masalah sosial yang amat menyulitkan negara-negara yang terinfeksi.
Dalam hal ini, pandemi COVID-19 dapat dikaitkan dengan teori perubahan sosial, yaitu teori perubahan melingkar. Teori ini mengatakan bahwa perubahan sosial pada masyarakat adalah sesuatu yang tidak dapat direncanakan dan diarahkan. Pandemi COVID-19 bukanlah suatu wabah yang direncanakan, dan keberadaannya sulit untuk dikendalikan. Akhirnya, masyarakat yang sebelumnya tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi, menjadi berubah dan mau tidak mau turut serta dalam permasalahan virus corona ini.


Selama pandemi ini berlangsung, tentunya semua orang akan sangat menghindari bentuk jabat tangan apapun, saling memeluk, ataupun bentuk sentuhan fisik lainnya. Padahal, ada negara yang melakukan kontak-kontak tersebut sebagai perwujudan adat dan budayanya. Misalnya Indonesia memiliki budaya seperti berjabat tangan sebagai bentuk kesopanan. Namun selama pandemi COVID-19, bentuk jabat tangan manapun harus dihindari karena dapat mengakibatkan penyebaran virus corona. Pada akhirnya, pandemi ini menyebabkan budaya yang ada di masyarakat bergeser dan tersingkirkan.
Respon masyarakat terhadap pandemi COVID-19 adalah kecemasan sosial dan rasa takut yang tidak bisa diprediksi. Masyarakat semakin gencar dengan pembelian masker, hand sanitizer, dan juga membiasakan diri untuk mencuci tangan. Bahkan di situasi seperti ini pun, ada masyarakat yang menimbun masker maupun hand sanitizer dan menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Kemudian, masyarakat seringkali merasa cemas dan mengalami kepanikan sosial, hingga akhirnya melakukan panic buying, yaitu membeli barang kebutuhan hidup secara berlebihan dan jumlahnya banyak, karena merasa takut bahwa pandemi COVID-19 ini akan semakin dekat dengan lingkungan sehari-hari mereka. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kontrol atas hal yang terjadi di sekelilingnya, maka orang itu akan berupaya untuk memiliki kendali. Masyarakat tidak memiliki kontrol akan virus corona, sehingga masyarakat merasa butuh untuk menggunakan hand sanitizer maupun masker sebagai bentuk pengendalian terhadap virus corona.

Akan tetapi, ada sebuah cara dan hal yang dapat dilakukan guna menghambat penyebaran virus corona. Hal tersebut berupa social distancing, yang artinya adalah pembatasan interaksi sosial terhadap individu lainnya. Social distancing ini berarti memutus komunikasi secara langsung untuk sementara waktu, sehingga tidak akan terjadi adanya bentuk kontak fisik langsung pula. Akhirnya masyarakat berkomunikasi secara tidak langsung melalui perantara sekunder, yaitu melalui media sosial. Namun di satu sisi, social distancing ini menyebabkan tatanan sosial rusak. Karena virus corona menciptakan jarak sosial dan membatasi seorang individu untuk berinteraksi dan berdekatan dengan individu lain. Bahkan, kini seseorang akan melakukan suatu diskriminasi berupa kekerasan simbolik terhadap orang lain yang batuk-batuk, atau bersin dan juga lainnya. Seperti teori labelling, orang tersebut akan dicap sebagai tersangka corona sehingga seseorang akan merasa tidak nyaman dan mendiskriminasi kehadiran orang tersebut. Dan pada akhirnya, orang tersebut akan merasa cemas berlebih dan ikut percaya bahwa dirinya tertular corona.

Dalam pandemi ini, peran pemerintah sangat penting untuk memimpin pergerakan dalam mengatasi virus corona. Keberadaan tenaga medis dan kedokteran juga sangat diperlukan untuk menanggulangi pasien positif corona yang terus menerus bertambah. Hal ini berkaitan dengan teori fungsionalisme struktural, dimana masyarakat berada dalam suatu sistem yang terstratifikasi. Dapat dikatakan bahwa stratifikasi merupakan kebutuhan dari suatu sistem. Bila ada posisi yang tidak menjalankan tugasnya, maka sistem sosial akan mengalami kekacauan. Maka, keseimbangan antara peran pemerintah dan tenaga medis harus tetap ada. Keduanya harus menjalankan peranannya agar seluruh bidang kehidupan bisa berjalan dengan baik. Pemerintah tetap berfokus kepada penanggulangan perekonomian yang terguncang. Juga memberikan bantuan dan fasilitas yang memadai kepada masyarakat karena pandemi ini mengakibatkan banyak orang sulit untuk mencari nafkah dan sulit untuk menstabilkan perekonomiannya. Sementara tenaga medis berfokus kepada pengobatan dan penanganan langsung terhadap pasien COVID-19. Tenaga medis adalah mereka yang berada di garis terdepan selama pandemi COVID-19 ini berlangsung.

Selama penanggulangan COVID-19, seluruh negara bekerja sama untuk saling membantu dan menahan laju penyebaran virus corona. Hal ini seperti teori sistem yang dikatakan Niklas Luhmann, dimana secara keseluruhan dunia merupakan suatu sistem dan dunia sosial memiliki sistemnya sendiri yaitu komunikasi. Dalam hal ini, negara-negara yang terinfeksi virus corona akan terus saling berkomunikasi untuk memberikan informasi, bantuan, maupun penanggulangan bersama. Negara-negara tersebut akan saling berkontak karena sama-sama mengalami pandemi COVID-19.
Selama pandemi ini berlangsung, seluruh negara sudah sewajarnya saling membantu dan membentuk suatu jaringan sosial agar bisa sama-sama mengatasi jumlah pasien yang terus menerus naik, mengantisipasi penyebaran COVID-19, dan terus memperkuat fasilitas dan pelayanan tenaga medis dalam upaya memutus rantai pandemi COVID-19.

Oleh: Amandita Putri

Saat ini, dunia sedang dihebohkan dengan adanya pandemi baru, yaitu virus COVID-19. Seluruh dunia sudah menerapkan strategi masing-masing dalam melawan pandemi ini. Indonesia sendiri melawan COVID-19 dengan menerapkan physical and social distancing serta kebijakan “libur” agar masyarakat berada di rumah saja. Hal ini dilakukan pemerintah untuk mengurangi atau memperlambat penyebaran virus. Namun, kebijakan baru ini dihadapi oleh beberapa kesulitan, salah satunya adalah culture shock yang dialami masyarakat. Culture shock merupakan fenomena sosial yang menandai adanya perubahan sosial budaya yang terlalu cepat sehingga dapat menimbulkan konflik sosial.

Masih banyak masyarakat yang belum menerapkan physical and social distancing serta beberapa masyarakat masih berkeliaran di luar rumah. Hal ini, dapat disebabkan oleh culture shock yang dialami mereka karena kebijakan baru dari pemerintah ini, bertentangan dengan kebiasaan masyarakat. Masyarakat terbiasa beraktivitas ke luar rumah, seperti berekreasi, mudik dan pergi bekerja. Kemudian, masih terdapat beberapa warga yang pergi ke pusat-pusat keramaian untuk hangout dan berlibur meski sudah dilarang oleh pemerintah. Mereka tidak terbiasa untuk berada di rumah sehingga muncul rasa jenuh yang memicu tindakan pergi keluar rumah untuk menghibur diri. Sama halnya dengan mudik, masih banyak warga yang melakukan mudik, padahal jam operasional transportasi umum sudah dikurangi dan diperketat oleh pemerintah dengan harapan jumlah warga yang mudik berkurang atau bahkan tidak ada. Namun tetap saja, masih banyak warga yang melakukan mudik karena mudik merupakan suatu kebudayaan warga Indonesia, apalagi menjelang bulan Ramadhan sehingga sulit untuk melarang warga agar tidak melakukan tradisinya.

Selain culture shock, kebodohan juga dapat menjadi alasan mengapa masih banyak warga yang berkeliaran di luar rumah. Mereka kurang mengedukasi diri mengenai bahaya dan pencegahan virus corona sehingga pandemi dunia ini dianggap enteng. Apalagi dengan gejala-gejalanya yang sudah biasa dialami oleh masyarakat Indonesia, yaitu flu dan batuk sehingga kewaspadaan masyarakat belum tinggi.

Selain itu, terdapat masyarakat yang terlalu waspada sehingga timbul juga masalah panic buying. Hal ini juga disebabkan oleh culture shock. Mengapa begitu? Merasa kaget dan terguncang dengan kebijakan pemerintah untuk di rumah saja, banyak orang yang terlalu hati-hati sehingga pada akhirnya mereka membeli kebutuhan pokok dalam skala besar yang mengakibatkan orang lain tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat memicu konflik antara orang-orang yang panic buying dan yang tidak akibat perbedaan pendapat.

Pada akhirnya, kebijakan yang ada untuk melawan virus corona bertentangan dengan kebudayaan yang ada, seperti bekerja dari rumah, tidak bersekolah, dan mengurangi kumpul-kumpul dengan teman. Dengan begitu, pemerintah harus lebih tegas dalam menerapkan kebijakan yang telah mereka buat sehingga Indonesia dapat melewati pandemi ini dengan lancar. Kemudian, pemerintah juga harus meningkatkan sosialisasi akan bahaya dari virus corona sehingga pemahaman publik mengenai kebijakan pemerintah menjadi lebih dalam.

Oleh: G. A. A. Taurisa

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia maupun dunia sedang menghadapi pandemi COVID-19. Dikarenakan pandemi ini, pemerintah Indonesia menghimbau masyarakat untuk melakukan self isolation serta social distancing untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut. Banyak dari sekolah yang sekarang sudah melaksanakan online school dan banyak kantor-kantor yang menerapkan Work from Home atau kerja dari rumah. Pandemi Virus Corona ini menciptakan kepanikan tersendiri bagi masyarakat. Banyaknya hoax di media sosial tentang COVID-19 memicu kepanikan masyarakat. Kepanikan tersebut menciptakan sugesti bagi beberapa orang. Sugesti yang ditimbulkan dari hoax-hoax dan kepanikan tersebut membuat seseorang tidak dapat berpikir secara rasional atau kritis. Mereka yang tersugesti dan panik segera memborong kebutuhan pokok bahkan hand sanitizer dengan jumlah yang sangat-sangat banyak hingga stok nya habis dan membuat sulit orang lain yang padahal lebih membutuhkan barang tersebut.
Kemudian, perilaku self isolation selama pandemi ini cukup merugikan beberapa pihak contohnya pihak/masyarakat kelas bawah yang dari segi ekonomi kurang atau belum tercukupi. Dalam teori sosiologi, hal tersebut disebut stratifikasi sosial atau adanya kelas-kelas sosial. Bagi masyarakat kelas atas, mudah saja bagi mereka untuk mendapatkan bahan pangan dan kebutuhan lain karena mereka pasti memiliki tabungan dan gaji tetap yang besar walaupun ada kebijakan work from home. Serta masyarakat kelas atas akan lebih mudah untuk melaksanakan tes virus corona dikarenakan mereka memiliki uang. Tetapi, bagi masyarakat kelas bawah, hal tersebut tentunya merugikan. Mereka yang tidak memiliki tabungan atau mereka yang upah atau gajinya harian, tentunya akan sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa isolasi dan pandemi ini. Masyarakat kelas bawah juga tentunya akan lebih sulit untuk melaksanakan tes virus corona, karena yang diutamakan pastilah orang-orang yang penting dan memiliki uang.



Pemetaan Konflik SIPABIO untuk Masalah Pandemi Virus Corona

Disclaimer: Belajar sosiologi untuk kelas XI IPS materi konflik sosial.

Sulitnya melawan virus corona pernah dibahas pada postingan sebelumnya Kajian Sosiologi: Sulitnya Melawan Virus Corona, kini kita akan membahas masalah baru yaitu penolakan warga terhadap jenazah positif virus corona di beberapa daerah. Berita ini sudah banyak dimana-mana.

Perlu respon kita sebagai pelajar ber-sosiologi menyikapi ini dengan berpikir logis dan kritis. Teknik pemetaan konflik SIPABIO (Source, Issues, Parties, Attitude/feeling, Behavior, Intervention, Outcome) (Susan, 2019). Memetakan suatu konflik sosial dari sumber sampai bagaimana upaya penyelesaian tingkat akhir. 

Saksikan tayangan video di bawah ini.


Video tersebut memperlihatkan bagaimana warga menolak ambulans yang membawa jenazah positif virus corona. Baik hidup atau mati, penderitaan mereka sebagai pasien positif tidak pernah selesai. Kita perlu meyikapi itu dengan rasional.

Silahkan simak tutorial pengerjaan di bawah ini.


setelah memahami video tersebut buatlah pemetaan konflik SIPABIO pada worksheet yang telah disediakan.

Statistik Pengunjung

Socio Education

Merupakan Weblog tentang seputar materi ilmu sosial sebagai penunjang dan pelengkap edukasi.

  © Design Blog 'Ultimatum' by Socio Education 2020

Back to TOP