Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Tokoh sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh sosiologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Desember 2010

Menuju Akomodasi: Deklarasi Malino Rekonsoliasi Konflik Poso

Konflik Bermula dari Stratifikasi Etnik

Penduduk Poso terkenal sangat heterogen, suku Pamona sebagai suku pribumi dari Tanah Poso mendominasi dalam berbagai aspek sosial ekonomi maupun politik namun masuknya para pendatang membuat stratifikasi di Poso semakin jelas terlihat. Para pendatang pada umumnya beragama muslim dan protestan yang berasal dari Jawa, Bali, Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Utara dan Gorontalo. Pendatang Muslim umumnya berasal dari arah Selatan, yaitu suku Bugis yang telah bermigrasi sejak masa pra-kolonial, maupun suku Gorontalo dari arah Utara. Karena itu, wilayah Poso Pesisir dan Kota Poso serta Pamona Selatan cukup banyak desa-desa Kristen dan desa-desa Islam berselang-seling dan bertetangga di satu pihak sedangkan wilayah Pamona Utara sampai dengan wilayah yang berbatasan dengan wilayah Poso Pesisir dan Kota Poso serta ke Barat dengan wilayah Lore Utara dan Lore Selatan yang sangat didominasi oleh mayoritas Kristen. Jadi secara geografis, umat Kristen yang mendiami bagian tengah (dalam) dari wilayah Poso terjepit baik dari arah Utara maupun Selatan dimana proporsi umat Islam semakin besar mendekati proporsi umat Kristen.

sumber 1 (http://www.perempuanposo.com/index.php/profildaerah/kabupatenmorowali/peta)

Pendatang umumnya lebih kuat dalam perebutan lahan dan ekonomi. Tanah pribumi banyak yang dijual ke para pendatang sehingga akta tanah dari pribumi beralih ke para pendatang. Tanah perkebunan seperti coklat dan kelapa tentunya mendapatkan keuntungan besar bagi para pendatang, namun pribumi juga sebagian masih memiliki perkebunan coklat dan kelapa akan tetapi dalam hal pemasaran masih kalah dengan pendatang. Penduduk asli merasa dirugikan dengan keadaan tersebut dilihat dari dua hal yaitu pertama, lahan pertaniannya sebagian telah beralih kepemilikannya kepada pendatang. Kedua, margin yang diperoleh dari hasil pertanian lebih besar dinikmati oleh para pendatang. Hal itulah yang memicu stratifikasi etnik pendatang dan pribumi.

Terdapat tiga stratifikasi dalam konflik Poso tersebut dalam sosiologi stratifikasi etnis menurut Noel (1968), startifikasi etnik dapat terjadi berdasarkan tiga prasyarat yakni :
Etnosentrisme, Persaingan, dan Perbedaan kekuasaan

Ketiga prasyarat tersebut tidak bisa dipisahkan karena apabila ada salah satunya yang tidak terpenuhi, startifikasi tidak akan terjadi.

Etnosentrisme merupakan suatu paham yang menganggap kelompoknya sebagai kelompok terbaik atau spesial yang memiliki hak dan kekuasaan tertinggi. Dalam hal konflik Poso, penduduk asli Poso menganut etnosentrisme dan menganggap etnisnya sebagai yang terbaik jika dibandingkan dengan pendatang. Faktor kedua yang menjadi prasyarat stratifikasi etnik adalah persaingan. Di Poso terdapat persaingan dalam hal ekonomi terutama dalam perdagangan. Penduduk asli Poso merasa termarginalisasikan oleh penduduk pendatang, karena perdagangan lebih dikuasai oleh para pendatang yang mayoritas beragama Islam. Prasyarat terakhir stratifikasi etnik adalah perbedaan kekuasaan. Maksudnya adalah penguasaan sektor-sektor politik yang strategis oleh para pendatang di Poso. Partai yang memenangi pemilu adalah Golkar yang anggotanya didominasi oleh pendatang.



Pergeseran Pribumi Poso yang Mayoritas ke Minoritas

Suku Pamona sebagai pribumi asli Poso yang mulanya sebagai kelompok mayoritas karena memiliki tanah dan menguasai perdagangan namun setelah adanya arus migrasi masuk yang cukup deras terjadi semenjak dasawarsa 1970-an dan 1980-an dimana program transmigrasi dilakukan dan dibukanya jalur prasarana angkutan darat, Trans-Sulawesi, pribumi Poso menjadi termarjinalkan. Masuknya para pendatang ini dari Jawa, Bali, Sulawesi Utara, maupun Sulawesi Selatan menggeser pribumi Poso yang mulanya mayoritas menjadi kelompok minoritas. Konsep mayoritas sering dihubungkan dengan dominan culture. Kelompok yang mendominasi beberapa sektor penting dalam kehidupan. Kelompok kebudayaan dominan memiliki kekuasaan, uang, sumber daya alam, pemilikan media massa, sekolah, universitas, dan peran dalam pemeritahan. Sehingga bagi mereka nilai-nilai persaingan, individualisme dan kebebasan tidak berarti apa-apa.



Mayoritas dan minoritas di dalam kajian sosiologi tidak selalu mengacu dari segi jumlah, tetapi merujuk pada sebuah kelompok yang memiliki kekuasaan tatanan atau yang sangat berpengaruh dalam masyarakat. Kelompok mayoritas mempunyai karakteristik hanya merekalah yang superior terhadap kelompok etnik yang dijadikan inferior. Bagi pribumi Poso mengklaim bahwa para pendatang tersebut dikatakan sebagai kelompok minoritas, yang datang dari luar daerah. Mereka (Pribumi Poso) percaya bahwa karena kelompok minoritas secara alamiah berbeda maka mereka harus dipisahkan bahkan disingkirkan. Mereka percaya bahwa kaum mayoritas (dalam hal ini Pibumi Poso) yang paling berhak sehingga mereka pun mengklaim bahwa mereka yang paling berkuasa, mempunyai status sosial yang tinggi, dan memiliki harga diri yang harus dihormati. Mereka juga memiliki rasa takut dan selalu curiga bahwa kelompok minoritas selalu berencana menggrogoti faktor-faktor yang menguntungkan kelompok dominan.



Deklarasi Malino Bentuk Akomodasi Konflik Poso

Kekerasan yang terjadi di Poso banyak mengundang perhatian masyarakat Indonesia, banyaknya korban jiwa yang di alami dari masing-masing pihak ternyata mendorong untuk mengadakan bentuk perdamaian yang diadakan di Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang dinamakan “Deklarasi Malino”. Deklarasi tersebut diadakan pada tanggal 18-20 Desember 2010 yang tidak lepas dari inisiatif lokal yang tulus dan kuat untuk menghentikan siklus kekerasan di Poso. Penyatuan etnis yang berkonflik tersebut dalam kajian sosiologi termasuk dalam hubungan antarkelompok berbentuk akomodasi. Akomodasi merupakan keadaan hubungan antar etnik atau ras yang seimbang dalam proses kerjasama antar budaya. Akomodasi merupakan suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi sosial antara pribadi dan kelompok-kelompok manusia untuk meredakan pertentangan. Sikap saling menghormati antar masing-masing pihak yang bertikai di Poso merupakan proses penyesuaian dari beberapa pihak. Pada awalnya pemimpin agama Kristen dari suku Pamona terlebi dahulu untuk mengajukan perdamaian dengan melobi pemerintah pusat, hal ini suatu paksaan keinginan dimana perbedaan status atau kedudukan untuk melakukan perdamaian dengan pihak islam. Akomodasi dapat juga dilakukan melalui paksaan dimana perbedaan status, kedudukan, posisi atau stratifikasi sosial antar etnik dominan (power) memaksa kelompok etnik subdominan. bentuk lunak paksaan adalah konsiliasi dimana terdapat kesempatan setiap etnik untuk menyampaikan faktor-faktor yang dipertentangkan untuk dirundingkan bersama sebagai keputusan yang akomodatif. Pertemuan dengan Menko Kesra dan Menko Polkam ternyata mendapat kemajuan untuk perdamaian Konflik Poso, pemerintah pusat menfasilitasi dengan mempertemukan kedua belah pihak untuk saling mengajukan faktor-faktor yang dipertentangkan.

Dalam kasus konflik Poso ini termasuk dalam hubungan antarkelompok bentuk mediasi dimana kelompok yang berunding menentukan pihak ketiga yang dianggap netral untuk menyelesaikan pertentangan antar etnik.

Tujuan akomodasi:
1.Mengurangi pertentangan atau konflik
2.Kebutuhan atau keinginan hidup bersama
3.Menciptakan kerjasama antar atau lintas etnik



Terdapat tujuan penting secara akomodatif untuk mengurangi pertentangan atau konflik yaitu dari isi deklarasi damai Malino ini disebutkan bahwa kelompok Muslim dan Kristiani dengan hati lapang serta jiwa terbuka sepakat menghentikan semua bentuk konflik dan perselisihan. Mereka juga wajib mentaati semua bentuk dan upaya penegakan hukum dan mendukung pemberian sanksi hukum kepada siapa saja yang melanggar serta meminta aparat negara bertindak tegas dan adil untuk menjaga keamanan. Guna menjaga agar suasana damai, mereka menolak pemberlakuan keadaan darurat sipil dan campur tangan pihak asing. Mereka sepakat menghilangkan semua fitnah dan ketidak-jujuran terhadap semua pihak dan menegakkan sikap saling menghormati dan memaafkan satu sama lain, demi terciptanya kerukunan hidup bersama. Disepakati juga tentang kebutuhan hak hidup bersama di Poso yang tersirat dari adanya pernyataan bahwa Poso adalah bagian integral dari NKRI, karena itu setiap warganegara memiliki hak untuk hidup, datang dan tinggal secara damai serta menghormati adat-istiadat setempat. Semua hak dan kepemilikan harus dikembalikan kepada pemilik yang sah sebagaimana sebelum konflik dan perselisihan berlangsung.
KLIK GAMBAR UNTUK PERJELAS

Kamis, 25 November 2010

Pierre Bourdieu: The Critique of Structuralism

The critique of structuralism
Menurut bourdieu, strukturalis mengabaikan ketidakpastian situasi dan kecerdikan praktis dari agen yang tidak mekanis, aturan yang mengikat dan peran bermain dalam konteks yang standar. Sebaliknya, agen menggunakan “practical sense” (sens pratique) untuk beradaptasi dengan situasional tertentu dengan batasan struktural. Bourdieu menekankan struktur yang kompleks dan lainya melalui pendekatan “objectifying”. Dalam ungkapan Durkheim untuk membatasi “fakta sosial” Bourdieu melihatnya sebagai kelas sosial dan faksi dalam kelas tersebut sebagai fakta sosial.

The critique of Interactionism and Phenomenology
Bourdieu berpendapat ada lebih untuk kehidupan sosial dari interaksi, dan ada lebih banyak interaksi dari "definisi situasi" dalam Interaksionisme simbolik atau "accounting practises" dalam ethnomethodology. seorang "aktor" interaksionisme simbolis dan "anggota" dari ethnomethodology adalah abstraksi yang gagal untuk menyadari bahwa anggota selalu mapan dalam kelompok tertentu dan kelas. Interaksi selalu interaksi-dalam-konteks, dan yang paling penting dari konteks ini adalah lokasi kelas. Bahkan seperti teature dasar interaksi sebagai kemungkinan yang bahkan mungkin terjadi antara individu-individu bervariasi dengan latar belakang kelas. Interaksi dengan demikian tertanam dalam struktur, dan struktur kendala apa yang mungkin.

The Critique of Utilitarianisme
Bourdieu tidak menggantikan model ekonomi tindakan rasional dengan model interpretatif tindakan simbolis. Dia tidak membantah bahwa teori tindakan rasional adalah salah karena terlalu rasionalistik atau karena mengabaikan sisi interpretatif tindakan. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa teori tindakan rasional tidak menyadari bahwa tindakan bahkan simbolis rasional dan berdasarkan kepentingan kelas. Jadi, menurut Bourdieu, kesalahan model ekonomi tidak bahwa itu menyajikan semua tindakan sebagai rasional dan tertarik, melainkan kesalahan besar adalah untuk membatasi kepentingan dan rasionalitas dengan hadiah materi langsung yang dikumpulkan oleh reflektif dan mencari keuntungan individu.

Selasa, 08 September 2009

WILLIAM GRAHAM SUMNER, ROBERT EZRA PARK, KARL MANNHEIM

WILLIAM GRAHAM SUMNER (1840-1910)
Sistem sosiologi Sumner (seorang Amerika) didasarkan pada konsep in-group dan out-group. Masyarakat merupakan peleburan dari kelompok-kelompok sosial. Kebiasaan dan tata kelakuan merupakan petunjuk-petunjuk bagaimana harus memperlakukan warga-warga sekelompok maupun warga-warga dari kelompok lainnya. Apabila suatu kebiasaan dianggap demikian pentingnya bagi kesejahteraan kelompok sosial, maka kebiasan tersebut menjadi tata kelakuan atau moral kelompok yang mempunyai sanksi-sanksi yang tegas. Menurut Sumner ada empat dorongan yang universal dalam diri manusia yaitu rasa lapar, rasa cinta, rasa takut dan rasa hampa. Dari dorongan teersebut timbullah kepentingan-kepentingan yang menyebabkan terjadinya pola-pola kegiatan kebudayaan. Karena itu, keempat dorongan tersebut merupakan kekuatan-kekuatan sosial yang terpokok.
Hasil karyanya adalah:
Collected Essays on Political and Science (1885)
What social classes owe to folkways (1907)
Selected essays of William Graham Sumner (1924)
The science of sociology (dengan A.C. Keller, 1927)
Essays of William Graham Sumner (2 jilid, 1934)

ROBERT EZRA PARK (1864-1944)
Park dianggap sebagai pelopor dari salah satu mahzab dalam ilmu sosiologi yaitu mahzab ekologi yang di akui sebagai cabang ilmu sosiologi pada 1925 oleh suatu pertemuan American sociological society.
Pokok ajarannya adalah suatu pendapat yang menyatakan bahwa sosiologi meneliti masyarakat setempat dari sudut hubungan antar manusia. Park memimpin sejumlah besar penyeledikan mengenai pelbagai peristiwa dalam pergaulan hidup kota dan mengenai sifat-sifat suatu bangsa. Namanya terkenal karena telah mengarang sebuah buku pengantar sosiologi (bersama Burgess) yang berjudul: introduction to the science of sociology pada 1921. dalam buku ini, Park membahas semua persoalan ilmu sosiologi, yang sebagian diambil dari kupasan-kupasan hasil karya sarjana sosiologi terkemuka. Bukunya berpengaruh besar pada perkembangan lanjut ilmu sosiologi terutama di Amerika Serikat.
Hasil karyanya adalah:
Race and culture (diterbitkan pada 1950, setelah dia meninggal dunia), dan sebelumnya dia telah menulis sebuah buku bersama dengan H.A. Miller (pada 1921) yang berjudul: Old World Traits Transplanted.

KARL MANNHEIM (1893-1947)
Karl Mannheim mula-mula adalah seorang guru besar Universitas Frankurt-am-Main di Jerman. Kemudian pindah dan menetap di Inggris, dimana dia menjadi guru besar Universitas London.
Mannheim telah banyak menyumbangkan buah pikirannya bagi perkembangan sosiologi. Antara lain dipeloporinya suatu cabang sosiologi, yang dinamakannya sosiologi pengetahuan, yang khusus menelaah hubungan antara masyarakat dengan pengetahuan. Kemudian, teorinya yang sangat terkenal adalah mengenai krisis. Akar dari segenap pertentangan yang menimbulkan krisis terletak dalam ketegangan-ketegangan yang timbul di semua lapangan kehidupan, karena asas laissez faire berdampingan dengan asas-asas yang baru dalam kehidupan ekonomi. Ini berlaku pula bagi lapangan-lapangan kehidupan lainnya. Perimbangan-perimbangan dalam masyarakat menurut asas yang baru, dan di dalam hal ini manusialah yang harus memberi bentuk kepada perimbangan-perimbangan baru tadi.
Akan tetapi dalam hal ini manusia gagal melakukannya. Inilah yang meyebabkan krisis. Menurut Mannheim yang sangat perlu adalah diadakannya suatu planning for freedom, yaitu semacam peencanaan yang diawasi secara demokratis dan menjamin kemerdekaan aktivitas-aktivitas individu perimbangan tersebut diatas. Dalam rangka planning for freedom tersebut, Mannheim merintis pembentukan The International Library of Sociology and Social Reconstruction yang bertujuan untuk menelaah (secara ilmiah) persoalan-persoalan ekonomi dan perencanaan sosial yang merupakan persoalan penting dewasa ini.
Hasil karyanya adalah:
Ideology and utopia (1929)
Man and society in an age of reconstruction (1940)
Diagnosis of our time (1943)


LESTER FRANK WARD, VILFREDO PARETO, GEORG SIMMEL

LESTER FRANK WARD (1841-1913)
Ward di anggap sebagai seorang pelopor sosiologi di Amerika Serikat. Tujuan utamanya adalah membentuk suatu sistem sosiologi yang akan menyempurnakan kesejahteraan umum manusia. Menurutnya sosiologi bertujuan untuk meneliti kemajuan-kemajuan manusia. Ilmu tersebut mempelajari apa yang dilaksanakan manusia jadi, fungsi masyarakat yang dipelajarinya. Ia membedakan antara pure sociology (sosiologi murni) yang meneliti asal dan perkembangan gejala-gejala sosial dan applied sociology (sosiologi terapan) yang khusus mempelajari perubahan-perubahan dalam masyarakat karena usaha-usaha manusia. Menurut Ward, kekuatan dinamis dalam gejala sosial adalah perasaan. Ia terdiri dari keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan. Rasa lapar dan rasa cinta merupakan keinginan-keinginan yang kuat. Perasaan merupakan kekuatan individu, karena interaksi berubah menjadi kekuatan sosial. Kekuatan sosial mempunyai kemampuan untuk menggerakan kecakapan-kecakapan manusia di dalam memenuhi tujuannya.
Hasil karyanya adalah:
Dynamic society (1883)
Psychic factors of civilization (1893)
Pure sociology (1903)

VILFREDO PARETO (1848-1923)
Vilfredo Pareto telah membuat beberapa teori dalam sosiologi yang dianggap sebagai logi-experimental science. Sosiologinya didasarkan pada observasi terhadap tindakan-tindakan, eksperimen terhadap fakta-fakta dan rumus-rumus matemis. Dalil-dalil yang umum menurut Pareto, hendaknya dibentuk atas dasar metode induksi. Spekulasi dan pertanyaan yang aprioristis tidak bernilai bagi ilmu pengetahuan. Menurut dia, masyarakat merupakan sistem kekuatan yang seimbang dan keseimbangan tersebut tergantung pada ciri-ciri tingkah laku dan tindakan-tindakan manusia dan tindakan-tindakan manusia tergantung dari keinginan-keinginan serta dorongan-dorongan dalam dirinya.
Buku karyanya adalah:
Treatise on general sociology (3 jilid, 1917) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (4 jilid, 1935) dengan judul The mind and society.

GEORG SIMMEL (1858-1918)
Menurut Georg Simmel, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan khusus, yaitu satu-satunya ilmu pengetahuan analitis yang abstrak di antara semua ilmu pengetahuan kemasyarakatan. Masyarakat merupakan suatu proses yang berjalan dan berkembang terus. Masyarakat ada di mana individu mengadakan interaksi dengan individu-individu lainnya. Interaksi timbul karena kepentingan-kepentingan dan dorongan tertentu.
Georg Simmel mengatakan bahwa objek sosiologi adalah bentuk-bentuk hubungan antar manusia. Mahzab yang dipelopori Simmel adalah mazhab sosiologi formal.
Hasil karyanya adalah:
Concerning social differentiation (1890)
Sociology, studies of the forms of socialization (1908)
Basic problems of sociology (1917)
Conflict of modern culture (1918)


FERDINAND TONNIES
Ferdinand Tonnies terkenal dengan teorinya mengenai Gemeinschaft dan Gesellschaft sebagai dua bentuk yang menyertai perkembangan kelompok-kelompok sosial. Gemeinschaft (paguyuban) adalah bentuk kehidupan bersama anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang juga bersifat nyata organis sebagaimana dapat diumpamakan pada peralatan hidup tubuh manusia atau hewan. Bentuk Gemeinshcaft terutama dapat dijumpai didalam keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga dan sebagainya.
Gesellschaft (patembayan) merupakan bentuk kehidupan bersama yang merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu yang pendek. Gesellshcaft bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka, serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat di umpamakan pada sebuah mesin. Bentuk Gesellschaft, misalnya terdapat pada organisasi sepdagang, organisasi suatu pabrik atau dapat pada suatu organisasi industri dan seterusnya.
Hasil karyanya adalah:
Gemenschaft und Gesellschaft (1887) custom (1909)
Sociological Studies and Criticism (3 jilid 1952)
Introduction to Sociology (1937) dan lain-lain

LEOPOLD VON WIESE (1876-1949)
Von Wiese, seorang Jerman, menganggap sosiologi sebagai ilmu pengetahuan empiris yang berdiri sendiri. Objek sosiologi adalah penelitian terhadap hubungan antar manusia yang merupakan kenyataan sosial. Jadi, katanya objek khusus ilmu sosiologi adalah interaksi sosial atau proses sosial. Penelitiannya yang pertama merupakan suatu penyelidikan terhadap klasifikasi proses-proses social dengan terutama menyoroti proses-proses sosial yang asosiatif dan disosiatif. Setiap kategori proses sosial dibagi-baginya ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil atas dasar derajat asosiatif atau disosiatifnya.
Penelitian selanjutnya dilakukannya terhadap struktur sosial yang merupakan saluran dari hubungan antara manusia.
Hasil karyanya adalah:
The Basis of Sociology: A critical examination of Herbert Spencer’s synthetic philosophy (1906)
General sociology, jilid I social relations (1924) dan jilid II social forms (1929)
Systematic sociology (bersama dengan Howard Becker, 1932)
Sociology of social relation (1941)

ALFRED VIERKANDT (1867-1953)
Pada mulanya Alfred Vierkandt menganggap sosiologi harus mempelajari sejarah kebudayaan. Kemudian menyatakan bahwa sosioogi terutama mempelajari interaksi dan hasil interaksi tersebut. Masyarakat merupakan himpunan interaksi-interaksi sosial, sehingga sosiologi bertugas untuk mengkonstruksikan teori-teori tentang masyarakat dan kebudayaan.
Setiap masyarakat merupakan suatu kebulatan dimana masing-masing unsur saling mempengaruhi. Dasar semua struktur sosial adalah ikatan emosional; tak ada konflik antara kesadaran individual dengan kelompok, oleh karena individu tunduk kepada tujuan kelompoknya. Hubungan antar individu merupakan suatu mata rantai, hubungan tersebut timbul dan hilang, akan tetapi struktur dan tujuan kelompok sosial tetap bertahan. Sosiologi mempelajari bentuk dan struktur-sruktur tersebut.
Hasil karyanya adalah:
Primitive and civilized peoples (1896)
Inertia in culture change (1908)
Theory of society; Main problems of philosophical sociology (1922, diperbaiki pada 1928 dan 1949)
Dictionary of sociology (1931)
Family, people and state in their social life (1936)


Jumat, 14 Agustus 2009

Tokoh Lainnya

HERBERT SPENCER (1820-1903)

Dalam bukunya yang berjudul The Principles of Sociology (3 jilid, 1877), Hebert Spencer menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis. Spencer mengatakan bahwa objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian sosial dan industri. Sebagai tambahan disebutkan asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, lapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan.
Tidak lupa dia menekankan bahwa sosiologi harus menyoroti hubungan timbal balik antara unsur-unsur masyarakat seperti pengaruh norma-norma atas kehidupan keluarga, hubungan antara lembaga politik dengan lembaga keagamaan. Unsur-unsur masyarakat tadi mempunyai hubungan yang tetap dan harmonis, serta merupakan suatu integrasi.
Sebagai mana juga dengan Comte, Spencer menganggap penting penelitian atas perkembangan masyarakat dan perbandingan antara masyarakat-masyarakat tersebut.
Hasil karyanya yang terkenal disamping yang telah disebutkan di atas adalah:
Social Statistics (1850)
Principles of Psychology (1955)
Principles of Biology (2 jilid, 1864 dan 1961)
Principles of Ethics (1893)

CHARLES HORTON COOLEY (1864-1929)
Seorang Amerika yaitu Charles Horton Cooley, mengembangkan konsepsi mengenai hubungan timbal balik dan hubungan yang tidak terpisahkan antara individu dengan masyarakat. Terlebih dahulu dia mulai dengan perkembangan kehidupan manusia sejak dia dilahirkan. Pada waktu manusia berada dibawah dominasi kelompok utama (primary group) yaitu keluarga, kelompok sepermainan dan rukun tetangga. Kelompok utama ditandai dengan saling kenal antara warga serta kerja sama pribadi yang erat adalah peleburan individu-individu dalam satu kelompok, sehingga tujuan individu juga menjadi tujuan kelompok.
Cooley dalam mengemukakan teorinya terpengaruh oleh aliran romantik yang mengidamkan kehidupan bersama, rukun dan damai, sebagaimana dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang bersahaja. Dia berprihatin melihat masyarakat-masyarakat modern yang telah goyah norma-normanya, sehingga masyarakat-masyarakat bersahaja merupakan bentuk ideal yang terlalu berlebih-lebihan kesempurnaannya.
Hasil karyanya aadalah:
Human Nature and Social Order (3 jilid, 1902)
Social Organization (1909)
Social Process (1918)

PIERRE GUILLAURNE FREDERIC LE PAY (1806-1882)
Le Pay, seorang kebangsaan Perancis adalah salah seorang ahli ilmu pengetahuan kemasyarakatan terkemuka abad ke-19. Dia berhasil mengenalkan suatu metode tertentu di dalam meneliti dan menganalisa gejala-gejala sosial yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta sosial dan analisis induktif. Kemudian dia juga menggunakan metode case study dalam penelitian-penelitian sosial.
Penelitian-penelitiannya terhadap masyarakat menghasilkan dalil bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga serta lembaga-lembaga lainnya. Keluarga merupakan objek utama dalam penyelidikan. Dia berkeyakinan bahwa anggaran belanja suatu keluarga merupakan ukuran kuantitatif bagi kehidupan keluarga sekaligus menunjukan kepentingan keluarga tersebut. Akhirnya dikatakan bahwa organisasi sosial keluarga sepenuhnya terikat anggaran keluarga tersebut.
Karangan-karangannya adalah :
European Workers (1855)
Social Reform in France (1864)
The Organization of The Family (1871)
The Organization of Labor (1872)

Sabtu, 14 Maret 2009

Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Jerman, di daerah Rhine pada tahun 1818. Ayahnya Heinrich dan ibunya Henrietta berasal dari keluarga rabbi yahudi.Tetapi Heinrich Marx memperoleh pendidikan sekular, dan mencapai kehidupan borjuis yang cukup mewah sebagai seorang pengacara yang berhasil. Ketika suasana politik menjadi tidak menguntungkan lagi sukses-sukses selanjutnya sebagai seorang pengacara keturunan yahudi, dia dan kelurganya masuk protestan dan diterima di gereja Luteran.Dan kemudian dalam pandangan Marx menekankan bahwa agama tidak memerikan pengaruh penting dalam perilaku, tetapi sebaliknya kepercayaan agama itu mencerminkan faktor-faktor sosial ekonomi yang mendasar. Agama menurutnya lebih merupakan protes melawan penderitaan daripada alat untuk menentramkannya “agama”. Kata Marx. Merupakan keluh kesah makhluk yang tertindas, hati dunia yang tak berjiwa. Mereka menderita bukan Cuma menginginkan hiburan, tapi perubahan–akhir penderitaan mereka, jalan keluar. ”Penderitaan keagamaan”, katanya, ”salah satu dan pada saat yang sama merupakan ekspresi penderitaan riil dan protes melawan penderitaan riil tersebut.

Pada usia 18, sesudah mempelajari hukum selama satu tahun di Universitas Bonn, Marx pindah ke Universitas Berlin. Sebagai akibat dari hubungan dengan kelompok Hegelian muda, meskipun Hegel sudah mati, namun semangat dan filsafatnya masih menguasai pemikiran filosofis dan sosial disana. Penganut Hegelian muda mempunyai pendirian kritis dan tidak menghargai ide-ide Hegel serta para pengikutnya, khususnya yang berhubungan dengan masa depan dan nada konservatifnya yang semakin bertambah itu. Dalam pemikirannya Hegel yaitu analisa dialektik, dalam analisa dialektik berintikan pandangan mengenai pertentangan antara tesis dan antitesis serta titik temu keduanya akhirnya akan membentuk suatu sintesa baru, kemudian menjadi tesis baru dan antitesis baru dan keduanya menjadi sintesa baru yang lebih tinggi tingkatannya. Meskipun model ini agak abstrak, mungkin dapat digambarkan kedalam suatu hal yang terdapat dalam tradisi masyarakat kita sendiri dengan adanya pertentangan antara ide-ide yang digunakan untuk membenarkan pelbagai bentuk pelapisan sosial dan ide-ide mengenai persamaan. Marx menggunakan analisa dealektik (yang meliputi kepekaan terhadap kontradiksi-kontradiksi internal dan perjuangan antara ide-ide lama dan ide-ide baru serta bentuk-bentuk sosial) tetapi dia menolak idealisme filosofis dan menggantikan dengan pendekatan materialistik.

Sesudah menyelesaikan disertasi doktornya di Universitas Berlin, Marx berniat untuk memasuki karir akademis. Namun sponsornya, Bruno Bauer dipecat dari pos akademis karena pandangan-pandangannya yang ke kiri dan antiagama. Marx menerima tawaran untuk menulis surat kabar borjuis liberal yang baru, bernama Rheinishe Zeitung. Pendirian radikal-liberal surat kabar itu mencerminkan oposisi borjuis terhadap sisa-sisa sistem aristokrasi-feodal kuno dan Marx menjadi pemimpin surat kabar ini. Disana Marx menikah dengan Jenny von Westphalen dan pindah ke Paris. Selama di Paris (1843-1845) Marx terlibat dalam kegiatan radikal. Pada saat itu merupakan pusat liberalisme dan radikalisme sosial dan intelektual yang penting di Eropa dan Marx berkenalan dengan pemikir-pemikir sosialis St. Simon dan Proudhon dan dengan tokoh revolusioner, Blanqui. Marx juga mengenal tulisan-tulisan ahli ekonomi politik Adam Smith dan David Richardo.

Mungkin peristiwa yang paling menentukan selama Marx menetap di paris adalah pertemuannya dengan Friedrich Engels yang menjadi kawan kerja yang dekat sampai Marx meninggal. Karena ayahnya Engels adalah seorang pengusaha tekstil sehingga memberikan kepadanya informasi langsung mengenai gaya hidup borjuis dan juga kondisi-kondisi proletariat. Engels pernah menjadi seorang manajer dari salah satu perusahaan ayahnya, tetapi hubungan dengan Marx menjadi lebih penting daripada kesadaran kelas borjuisnya. Engels terkesan akan keberhasilan Marx dalam analisa ekonominya, ditambah lagi dengan bacaan Marx sendiri mengenai tulisan ekonomi politik Inggris, mendorong dia ke usaha mengintegrasikan analisa ekonomi dan filsafat. Usaha ini tercermin dalam tulisan Marx berjudul Economic and Philosophical Manuscripts.

Pada tahun 1845 Marx diusir oleh pemerintahan Paris, karena tekanan dari pemerintah Prussia, yang pernah terganggu oleh tulisan-tulisan Marx yang berbau sosialis. Dari Paris Marx bertolak menuju Brussel dimana segera dia tenggelam dalam kegiatan-kegiatan sosialis internasional. Di Brussel dia mengadakan kontak dengan buruh-buruh dan kaum cendikiawan, beberapa adalah pelarian Jerman seperti dia sendiri. Banyak kenalan barunya ini sudah teribat dalam League of the Just yang sudah dibubarkan, yang merupakan suatu organisasi internasional yang revolusioner. Pada tahun 1846 Marx dan Engels bertolak menuju Inggris. Mereka diundang untuk mengikuti Communist League, suatu organisasi revolusioner yang bermarkas di London dan dimaksudkan sebagai pengganti League of the Just yang lebih besar lagi. Pada tahun 1848 Marx diundang kembali ke Paris oleh suatu pemerintahan yang baru. Ini merupakan masa-masa pergolakan, karena gerakan-gerakan revolusioner dengan cepat mendapat sambutan di seluruh Eropa. Sesudah tinggal sebentar di Paris, Marx kembali menerbitkan Neue Rheinische Zeitung dan dengan cara ini mempengaruhi arah revolusi itu. Marx melihat periode ini sebagai awal suatu titik balik sejarah yang penting yang akan segera menuju suatu kulminasi proses perubahan sosial yang mendasar yang sudah dimulai oleh Revolusi Perancis di tahun 1789. Baik serangan tahun 1789 maupun serangan tahun 1848 terhadap dominasi aristokratis tradisional, dipelopori munculnya kelas borjuis. Tetapi revolusi-revolusi tahun 1848 diikuti oleh orang-orang kelas buruh yang lebih terorganisasi, lebih sadar diri, dan secara potensial lebih berpengaruh daripada yang terjadi Revolusi Perancis sekitar 50 tahun sebelumnya. Dalam pandangannya mengenai keyakinan akan hasil akhirnya itu, Marx tidak seperti beberapa orang revolusioner mengenai kelas buruh, mendukung suatu gabungan antara kelompok borjuis dan proletar, sampai dominasi aristokrasi dilenyapkan, fase revolusi ini pada gilirannya akan mempersiapkan kondisi-kondisi materil dan sosial untuk kemenangan akhir kelas proletar atas kelas borjuis. Tetapi harapan-harapan Marx ini terbukti mendahului waktunya. Sementara kelompok borjuis berdebat tentang bagaimana terus maju dan beberapa kelompok proletariat menuntut suatu revolusi proletar dengan segera walaupun kondisi-kondisi materil dan sosial belum mencukupi, kekuatan-kekuatan konservatif berinisiatif untuk kembali bersama kelompok borjuis dalam posisi yang lebih berkuasa lagi. Dengan kembalinya masa-masa yang lebih jaya diawal tahun 1850-an, api-api revolusi sudah padam. Surat kabar Neue Rheinische Zeitung tidak terbit lagi tahun 1849 dan Marx diusir lagi dari Jeman. Dia kembali ke Paris tetapi tidak diijinkan tinggal disana, lalu dia bertolak ke pembuangannya di London dimana dia tinggal mengakhiri sisa-sisa hidupnya.

Sementara itu kondisi materil Marx yang sangat menyedihkan dan tidak menentu itu membuat dia tidak mampu untuk membiayai keluarga secara mencukupi. Situasi ini diringankan sedikit dengan bantuan keuangan dari Engels, yang kembali bekerja di salah satu perusahan kapas ayahnya. Marx juga dapat mencari uang sedikit dengan membuat artikel-artikel mengenai peristiwa-peristiwa di Eropa yang dimuat dalam New York Daily Tribune. Pada pertengahan tahun 1850-an Marx menerima warisan kecil dari keluarga istrinya yang sudah meninggal, warisan itu memberikan daya tahan sementara. Pada tahun 1883 (dua tahun setelah kematian istrinya) Marx meninggal.

Karya yang paling penting dihasilkan Marx selama tahun-tahun hidupnya di London adalah Das Kapital sebagai karya besarnya (magnum opus). Secara keseluruhan pusat peerhatian Das Kapital adalah kontradiksi internal dalam sistem kapitalis. Kontradiksi-kontradiksi ini mendorong dinamisme sistem itu secara meluas, tetapi sekaligus merupakan benih-benih perubahan radikal terakhir. Yng lebih penting lagi, karyanya ini dimaksudkan sebagai satu kritik terhadap teori-teori ortodoks mengenai ekonomi politik, seperti teori Smith dan Richardo dengan asumsi-asumsi individualistiknya, implikasi-implikasi politik laissez-faire-nya serta optimismenya yang bersifat naif mengenai konsekuensi-konsekuensi jangka panjang yang menguntungkan dalam suatu pasar bebas yakni ekonomi kapitalis. Karir Marx tidak dapat dipisahkan dari perkembangan gerakan sosialis di pertengahan abad ke-19. Seperti Comte dia seorang marjinal tetapi dengan alasan yang berlainan. Status marjinal Comte berasal dari pelbagai sifat keanehan pribadinya. Sifat marjinal Marx berhubungan dengan keterlibatannya dalam hal-hal radikal. Mungkin antara lain karena sifat marjinalnya ini, Marx merupakan seorang katalisator untuk tiga orientasi intelektual yang berbeda. Sumbangan teoritisnya banyak diambil dari:

  1. Metode dialektik Hegel dan historisme Jerman
  2. Teori ekonomi politik Inggris
  3. Pemikiran sosialis Perancis

Tetapi ketiga orientasi ini sangat berubah dalam karya Marx dan ide-ide sentral Marx , meskipun berulang kali dinyatakan selama perjalanan hidupnya, memperlihatkan suatu sumbangan kreatif yang penting tehadap perkembangan sosiologi modern.

________________________

Berlin, Isaiah, Karl Marx: His Life and Environment. New York: Oxford University Press, 1948.

Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi: klasik dan modern I. Terjemahkan Robert M.Z Lawang. Jakarta: Gramedia, 1994.

Suseno, Franz Magnis, “editor: Prof. Dr. John Raines” Marx Tentang Agama. Jakarta: Teraju, 2003.

Auguste Comte

Auguste Comte lahir di Montpellier, Perancis, tahun 1798. Keluarganya beragama katolik dan berdarah bangsawan, tetapi Comte tidak melihatkan loyalitasnya. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di Paris dan lama hidup disana, dimana dia mengalami suatu pergolakan sosial, intelektual dan politik. Comte seorang mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, yang meninggalkan Ecole sesudah seorang mahasiswa yang memberontak dalam mendukung Napoleon dipecat.

Comte memulai karir profesionalnya dengan memberi les dalam bidang metematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan dalam matematika. perhatian yang sebenarnya adalah pada masalah-masalah kemanusiaan dan sosial. Minat ini mulai berkembang dibawah pengaruh Saint Simon, yang memperkerjakan Comte sebagai sekretarisnya dan dengannya Comte menjalin kerjasama erat dalam mengembangkan karya awalnya sendiri. Kepribadian kedua orang ini saling melengkapi: Saint Simon orang yang tekun, aktif, bersemangat dan tidak disiplin. Comte seorang metodis, disiplin dan refleksif. Tetapi sesudah tujuh tahun, pasangan ini pecah karena perdebatan mengenai kepengarangn karya bersama, dan Comte lalu menolak pembimbingnya ini.

Sesudah hubungan dengan Saint Simon retak, dia tetap sebagai orang di luar akademik. Sebagian hal ini mungkin disebabkan sifat-sifat kepribadiannya yang menderita gejala paranoid yang berat. Kadang-kadang kegilaanya itu diarahkan ke teman-teman dan lawan-lawannya secara kasar. Pada suatu waktu segera seusai awal serangkaian kuliah-kuliahnya dalam suatu kursus privat, dia menderita gangguan mental yang serius dan dimasukkan ke rumah sakit karena penyakit "keranjingan" (mania). Tak lama dipulangkan dari rumah sakit (tanpa sembuh) dia gagal merenggut nyawanya sendiri, dengan membuang diri ke sungai Seine dan sesudahnya terus berada dalam suatu keadaan hati yang remuk-redam.

Pergaulan Comte dengan gadis-gadis juga mendatangkan malapetaka, tetapi relevan untuk memahami revolusi dalam pemikiran Comte, khususnya perubahan dalam tekanan tahap-tahap akhir kehidupannya dari positivisme ke cinta. Dia nikah dengan bekas pelacur bernama Caroline Massin, seorang wanita yang lama menderita, yang menanggung beban emosional dan ekonomi dengan Comte. Sesudah Comte keluar dari rumah sakit, dengan sabar istrinya berusaha memenuhi kebutuhan Comte, dan merawatnya sampai sembuh meskipun tanpa penghargaan Comte serta kadang-kadang disertai perlakuan kasar. Setelah pisah untuk sesaat lamanya, istrinya pergi dan membiarkan dia sengsara dan gila.

Tahun 1844, dua tahun setelah dia menyelesaikan enam jilid karya besarnya yang berjudul Course of Positive Philosophy Comte bertemu dengan Clothilde de Vaux, seorang ibu yang mengubah kehidupan Comte, dia kadang ditinggalkan suaminya ketika bertemu dengan Comte untuk pertama kalinya. Comte langsung mengetahui bahwa perempuan itu bukan hanya sekedar perempuan lain saja. Malang, Clothilde de Vaux tidak terlalu meluap-luap seperti Comte, walau sering berkirim surat cinta berapa kali, Clothilde menganggap hubungan itu hanyalah persaudaraan saja. Akhirnya dalam suratnya, Clothilde menerima hubungan intim suami-istri. Hubungan intim rupanya tidak jadi terlaksana tetapi perasaan mesra sering diteruskan lewat surat menyurat. Clothilde mengidap penyakit TBC dan hanya beberapa bulan sesudah ketemu Comte dia meninggal. Kehidupan Comte lalu tergoncang, dia bersumpah untuk membaktikan hidupnya untuk mengenang "bidadari"-nya itu.

Dalam karya bagian kedua yakni System of Positive Politics menjadi suatu bentuk perayaan cinta, tetapi dengan keinginan besar yang sama, yakni membangun sistem menyeluruh, seperti yang tercermin dalam karyanya yang dahulu. Karena dimaksudkan untuk mengenang "bidadari"-nya itu, karya Comte dalam "politik positif" itu didasarkan pada gagasan bahwa kekuatan yang sebenarnya mendorong orang dalam kehidupannya adalah perasaan, bukan pertumbuhan inteligensi manusia yang mantap. Dia mengusulkan suatu reorganisasi masyarakat dengan sejumlah tata cara yang dirancang untuk membangkitkan cinta murni dan tidak egoistis, demi "kebesaran kemanusian". Tujuannya adalah untuk mengembangkan suatu agama yang baru yaitu "Agama Humanitas" yang merupakan sumber-sumber utama bagi perasaan-perasaan manusia serta mengubahnya dari cinta diri dan egoisme intelektual ajaran-ajaran agama tradisional yang bersifat supernaturalistik. Dengan kata lain, agama humanitas harus sesuai dengan standar-standar intelektual serta persyaratan positifisme.

Sementara agama humanitas merupakan objek utama pemujaan dalam agama baru itu, dalam konsepnya wanita atau kewanitaan akan disembah sebagai perwujudan kehidupan perasaan dan sebagai pernyataan yang paling lengkap dari cinta dan altruisme. Clothilde disini menggantikan bunda maria serta menjadi perwujudan "wanita ideal". Ia menyatakan dirinya sebagai "pendiri agama, imam agung humanitas" dengan menunjukan jalan-jalan yang sangat terperinci.

Sumbangan kreatif yang khas dari Comte terhadap perkembangan sosiologi dilihat Martindale sebagai suatu sintesa antara dua perspektif yang saling bertentangan mengenai keteraturan sosial: positivisme dan organisme. Orang positivis percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengadakan perubahan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu. Hasilnya akan berupa suatu takhayul, kekuatan, kebodohan, paksaan, dan konflik akan dilenyapkan. Titik pandangan ini sangat mendasar dalam gagasan-gagasan Comte mengenai kemajuan yang mantap positivisme.

Sumbangan pikiran penting lain yang diberikan Comte ialah pembagian sosiologi kedalam dua bagian besar: statika sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dynamics). Statika mewakili stabilitas, sedangkan dinamaika mewakili perubahan. Dengan memakai analogi dari bologi, Comte menyatakan bahwa hubungan antara statika sosial dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi.

________________________

Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi: klasik dan modern I. Terjemahkan Robert M.Z Lawang. Jakarta: Gramedia, 1994.

Manuel, Frank E., The Propeths of Paris. Camridge, Mass: Harvard University Press, 1962.

Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi. Jakarta: FE-UI, 1993.

Statistik Pengunjung

Socio Education

Merupakan Weblog tentang seputar materi ilmu sosial sebagai penunjang dan pelengkap edukasi.

  © Design Blog 'Ultimatum' by Socio Education 2020

Back to TOP