;

Rabu, 25 Oktober 2017

Kajian Sosiologi: The Imitation Game bersama SDN Bejalen



Oleh: Putu A. Premadhitya*

Sebuah Studi Interaksi Sosial: Aktivitas Masyarakat Desa Bejalen Ambarawa

Rabu, 11 Oktober 2017 merupakan hari yang penuh canda di SDN Bejalen, Ambarawa. Hari itu, murid-murid SMA Global Prestasi bertandang ke sana membawa sepaket alat tulis dan berkantung-kantung hadiah. Tujuannya, sudah jelas berbagi ilmu dari empat mata pelajaran – matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan musik. Sejak upacara penyambutan di pagi hari, anak-anak itu sudah antusias. Ada yang lompat-lompat di barisan demi melihat perawakan calon “guru” sehari mereka yang badannya tinggi-tinggi. Ada yang saking semangatnya sampai bergoyang-goyang dan menunjuk-nunjuk kami, padahal dia berada di barisan paling depan – diiringi gelak tawa.

Saya sendiri tergabung dalam kelompok yang mengajar kelas 6, dengan spesifikasi subjek Bahasa Inggris. Bersama dua orang teman – Judith dan Toni – saya masuk ke kelas pukul 11.30. Lucunya, saya dan rekan sempat mengadakan perkenalan di sesi yang seharusnya milik kelas IPA karena saya sudah nongkrong duluan di depan kelas, sembari meminta mereka untuk tertib menunggu. Mereka malu-malu membalas pertanyaan kami akan nama dan cita-cita. Banyak yang mengaku ingin menjadi marinir, guru, sampai TNI. Kami sudah melakukan interaksi – kontak dan komunikasi – jadi pada giliran sesi milik kelompok saya, anak-anak itu sudah menghapus wajah tegang mereka. 


Kami tidak memiliki pengalaman mengajar secara profesional sama sekali, padahal harus mengajarkan suatu materi yang menurut saya cukup sulit. Sesuai dengan konsep sosiologi tentang imitasi, maka saya harus melakukan imitasi. Syarat-syarat imitasi menurut Dr. A.M.J Chorus: Pertama, adanya minat atau perhatian terhadap obyek (subyek) yang akan ditiru. Kedua, adanya apresiasi, mengagumi, menghargai. Ketiga Pengertian/pemahaman akan sesuatu yang akan ditiruAlhasil, kami mengimitasi guru bahasa kami – mengikuti teori sosiologi dari Dr. A.M.J Chorus yang mengatakan bahwa kami harus berminat dan memahami hal yang akan ditiru – jelas, karena kami ingin dihargai oleh anak-anak di dalam kelas itu. 

Kami meniru sapaan dan postur, namun lain halnya dengan gaya mengajar. Jadi ya, kami tidak sepenuhnya meniru. Bu guru bahasa kami saat mengajar posenya bak seorang pramugari, sehingga saya dan Judith ikut-ikutan berdiri seperti itu. Bu guru juga sudah memberikan pengarahan sebelum memulai kelas yang kami jadikan patokan dalam berperilaku.
 

Saya dan teman-teman cenderung memberikan materi lewat games, supaya mereka bisa mengimplementasikan kata-kata yang kami berikan dalam kalimat-kalimat sederhana yang mereka mengerti. Permainan pertama adalah Kuda Bisik, dimana mereka harus melakukan interaksi dengan teman mereka. Mengontak dengan mencolek, berkomunikasi dengan memberi informasi kalimat. Sesekali terdengar balasan dari temannya, “Hah? Barusan kau bilang apa?”

Mereka bekerja sama sembari berkompetisi demi mendapatkan hadiah dari kami. Seperti dikutip dari kata-kata Charles H. Cooley, kerja sama timbul apabila seseorang (anak-anak) menyadari dirinya mempunyai kepentingan atau tujuan yang sama dengan orang lain (temannya). Saya senang sekali, anak-anak ini bermain secara sportif dan kompetitif. Biasanya kalau di sekolah-sekolah kota, bukannya berbisik malah teriak-teriak. Sangat bertolak belakang dengan anak-anak itu.