;

Jumat, 23 Maret 2012

Ceritaku dari Pulau Anambas

 
Diatas pesawat terlihat pulau-pulau yang masih tumbuh hutan lebat dan pesisir pantai yang hijau dan biru muda, pasir nampak putih membatasi antara lautan dan daratan Kepulauan Anambas.

Sesampai kuinjakkan kaki ditanah Tarempa pusat kota di Kabupaten Kepulauan Anambas yang ramai dengan pompong (transportasi laut) dan speed boat transportasi laut modern dengan tenaga mesin yang bisa melesat cepat. Selain dua transportasi laut tersebut ada juga motor yang oleh warga disebut “Honda” merupakan kendaraan yang sering digunakan. Selain itu tidak terlihat kendaraan pribadi lain seperti halnya mobil. Ada mobil juga itu hanya milik Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, Pengadilan Agama, dan ambulans.

Aku disambut oleh Meila tim Labsos dan Bu Acim (kepala PAUD) di pelabuhan. Tidak menunggu lama aku bersama Pak Ubedilah, Pak Roni, Meila dan Bu Acim menuju ke Desa Rintis di kediaman Teteh Isye (Ketua Yayasan PAUD dan pemilik rumah yang mengijinkan rumahnya ditinggali). Perjalanan untuk mencapai ke Desa Rintis penuh jalanan yang terjal dan tinggi. Dan jaraknya lumayan jauh, memang tidak ada penjelasan berapa kilometer. Tapi kalau naik motor dengan kecepatan 20-35 km/jam dapat ditempuh selama 20 menit. Itu juga jalanan naik turun. Walau jalanannya sudah beraspal tapi tetap saja ada bagian yang masih bertanah.

Sesampai dirumah teteh Isye ponsel tidak ada sinyal dan tidak ada aliran listrik disini, pikir pasti jenuh disini. Jam tanganku menunjukan pukul 13.00 wib, Kata Teteh Isye masih ada 5 jam lagi untuk ada aliran listrik, karena disini listrik masih menggunakan diesel dan jadwalnya dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Padahal di kota masih ada sinyal dan listrik, tapi di desa ternyata listrik tidak ada dan sinyal pun tidak ada. Sehingga ponselku dinonaktifkan dan bersabar untuk bisa menghubungi orang-orang tercintai di pulau Jawa.

Lanjut setelah beristirahat sejenak, berkenalan dan berbincang-bincang, kita makan. Makanan disini selalu ditemani dengan ikan laut, pertama dengan cumi, lanjut ikan tongkol, ikan minyak, ikan simbok, dan menu lainnya seperti telor. Yang menjadi ciri setiap makan yaitu ada teh manis hangat (teh O) yang dihidangkan. Rasanya khas pulau Anamabas yaitu ada rasa cengkehnya dan kadang rasa cengkeh itu begitu terasa sehingga sedikit pahit. Yang paling kusukai ketika makan disini yaitu dengan cumi hitam alias blekutak. Memakan cumi hitam teringat di kampungku, Indramayu. Aku makan sehari 3 kali dengan lauk yang sehari sama, dan ada cerita yang lucu, yaitu ketika tukang sayur dan tukang pedagang ikan tidak lewat rumah maka tidak ada masakan. Ujung-ujungnya mie rebus lagi.

Ditengah-tengah masyarakat ku sebagai publik figure yang selalu bersinar bagi mereka, kadang ada yang minta pendapat untuk kemajuan desa ini. Di kedai sempat berdiskusi dengan mantan Kepala Desa Rintis Bapak Sutisna membahas desa yang diujung pulau ini. Ilmuku tidak terlalu banyak untuk memajukan desa yang besar ini tapi ku maksimalkan dengan semampuku. Di kedai inilah ku dapat berinteraksi dengan warga untuk bersosialisasi.

Keseharianku bertemu dengan guru-guru PAUD dan anak-anak PAUD Kurnia, banyak pengalaman yang didapat dari mereka dan banyak pula pelajaran yang bertambah bagiku.  Anak-anak PAUD begitu senang terhadapku, malah banyak yang berebut ingin disampingku, maklum aku guru satu-satunya yang lelaki sehingga paling tampan diantara guru-guru lain. Aku selalu menghibur mereka dengan ice breaking ala kota Jakarta, mereka pun riang. Sampai ku kehabisan ide untuk menghibur mereka kembali. Siangnya, ku mengajarkan guru-guru untuk membuat Rencana Kegiatan Harian (RKH) dan mengajarkan untuk mengoperasikan komputer, lucu tapi kadang kesel juga karena guru-guru lupa melulu apa yang kuajarkan. Dan ku maklumi karena mengajari yang usia lanjut.

Di PAUD inilah ku habiskan paruh hari dan menghilangkan ingatan akan rindu dengan orang-orang di Jakarta. Menjadi seorang guru PAUD tidaklah mudah, butuh kesabaran yang super apalagi dengan anak-anaknya yang kadang susah diatur. Kalau disuruh belajar malah main-main seperti Rara dan Ridho, dua anak itu yang tak kulupakan.

Banyak hal yang ingin kuluapkan dalam tulisanku ini, pertama ingin ku sampaikan keadaan ekonomi disini sangat tinggi, harga melambung 2 sampai 4 kali lipat dari harga yang ada di Jakarta. Harga tomat satu buah bisa mencapai Rp. 5000,. Dan sayur sawi satu ikat di Jakarta bisa Rp.1000,. tapi disini harganya mencapai Rp.5000,. mie rebus Rp.7000., bakso Rp.10.00,. teh manis dan kopi Rp.4000 jika dikasih es harganya ditambahkan seribu sampai duaribu. Dan harga bensin untuk motor harganya bisa Rp.10.000-15.000,. tergantung persediaan dan distrubusi.

Dari beberapa wawancara sambil lalu dengan masyarakat Desa Rintis ini banyak disebabkan karena kebutuhan pokok tersebut berasal dari luar pulau misalnya dari Tanjung Pinang, Batam, dan Jakarta. Apalagi ketika distribusi terhambat dikarenakan gelombang air laut yang tinggi dan keadaan politik disini memanas maka harga sangat tinggi. Berdasarkan diskusi kecil di kedai dan sambil lalu dengan warga pendatang dari Jawa dan Jakarta kalau masyarakat disini sangat konsumtif, hal sepele dibeli dan tidak bisa untuk berproduksi sendiri. Contohnya, masalah sayur mayur, Kepulauan Anambas sangat kaya tanah dan sangat produktif ditanami dengan tumbuhan sejenis sayur, seperti tomat, sawi, kentang, wortel, dan harga paling tinggi yaitu cabe, sangat tidak menutup kemungkinan masyarakat setempat menanam cabe.

Walaupun ada tanaman sayur tapi tidak mencukupi kebutuhan ekonomi sehingga harus menunggu datangnya kapal laut Perintis yang datang dari Tanjung Pinang yang membawa pedagang-pedagang sayur. Kalau kapal laut Perintis tersebut datang, pasar Tarempa penuh dan berjubel untuk membelinya. Kapal laut Perintis pun sesak dengan barang-barang dagangan. Pernah kah masyarakat memikirkan untuk produksi sendiri?. Hal ini terjawab saat berdiskusi dengan masyarakat kelahiran Kepulauan Anambas, saat ditanya tentang kenapa lebih memilih membeli daripada memproduksi, mereka menjawab “lebih praktis” dan ada yang menjawab “lebih murah ketimbang membeli barang mentah”, mereka lebih enak membeli barang sudah matang dan jadi untuk di konsumsi. Pola pikir seperti ini yang menyebabkan salah satu tingginya harga sembako.

Begitu pula yang diungkapkan oleh pak Nur (48 tahun, sebagai utusan ComDev Premiere Oil bidang Pertanian dari dari Joglo Tani) dia mengamini kalau masyarakat setempat konsumtif dan sangat tidak peduli dengan masalah pertanian, padahal daerahnya sangat produktif untuk ditanami. Sekarang banyak pemilik kebun berasal dari pendatang dan pekerjanya dari warga setempat. Terus hasil panennya dijual lagi kepada masyarakat.

Kedua, tentang politik. Mula-mula heran melihat pemuda-pemuda berbaju safari atau baju ke-dinas-an halulalang di kota Tarempa,  yang laki-laki mengendari motor-motor keren, yang perempuan juga mengendarai motor dengan pakaian yang modis, berkerudung yang bergaya-gaya, penuh hiasan dan warna warni. Tidak satu hari yang kulihat dan tidak satu orang, tapi berkali-kali dan beberapa orang. Saat coba kutelusuri, kalau pemerintahan disini sedang membutuhkan pegawai, baik lulusan SMA juga diterima, padahal standarnya harus sarjana dan pernah berpengalaman dibidangnya tapi disini tidak begitu, maklum pemerintahan baru, kabupaten ini muncul belum lama ini sehingga banya kaum muda yang direkrut. Tapi akankah mereka pantas mengenakan baju beratribut pegawai negeri sipil dengan pekerjaannya?

Banyak cerita pula kalau pemerintah disini menghabiskan dana untuk hal yang tidak diperioritaskan, lebih diperuntukan perjalanan dinas dan pelatihan-pelatihan yang implementasinya “nol”. Kalau menurutku disini ada “gila pegawai” dan “pegawai gila”. Gila Pegawai yaitu orang yang berambisi untuk menjadi pegawai tapi dengan pendidikan dan pengalaman yang tidak tepat, maksa bagitu. Sedangkan dengan Pegawai Gila yaitu orang yang sudah menjadi pegawai stress dan dipenjara gara-gara terlibat korupsi, dan anehnya ada juga pejabat yang tidak mengerti tugasnya.

Ketiga, masalah budaya. Kepulauan Anambas merupakan bagian dari Pulau Sumatra dekat dengan Malaysia konon secara bahasa seharusnya berbahasa melayu, namun berbeda dengan di Desa Rintis ini mayoritas berbahasa sunda dan etnis sunda. Historisnya dahulu banyak masyarakat yang berasal dari Rangkasbitung Banten dan Bangka Belitung yang merantau ke desa ini. Secara budaya tidak terlihat kebudayaan asli dan produk daerah setempat. Budaya yang mereka terapkan masih kontemporer bagiku tidak ada ciri khusus budaya yang lahir disini. Namun masyarakat tanpa nilai dan norma tentu tidak mungkin, minimal punya suatu aturan yang ada di masyarakat ini, yaitu mereka membentuk rutinitas marhabanan (pengucapan sholawat-sholawat), namun rutinitas ini baru berjalan karena sebelumnya tidak ada disini.

Kultural lainnya, seperti seni, jenis musik, pakaian, atau makanan masih mirip dengan daerah asalnya di Banten, Jawa, dan daerah Sumatra bagian utara. Tidak ada ikatan tradisi dan adat istiadat yang kuat yang dapat mengikat mereka, dan juga tidak ada acara spriritual seperti Upacara keagamaan, Upacara adat saat musim tertentu.

Kepulauan Anambas sangat berpotensi bagi sarjana muda yang ingin mengabdikan dirinya di pulau kaya minyak ini, namun hal yang penting harus memiliki idealisme dan loyalitas tinggi untuk membangun daerah ini. Kalau tidak akan terkena arus yang dapat merusak citra positif. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Socio Education

Merupakan Weblog tentang seputar materi ilmu sosial sebagai penunjang dan pelengkap edukasi.

Statistik Pengunjung

;

  © Design Blog 'Ultimatum' by Socio Education 2017

Back to TOP