;

Rabu, 13 April 2011

SEUNTAI KISAH: PERISTIWA MALAM KEDATANGAN SI JAGO MERAH

Peritiwa yang memilukan terjadi pada minggu malam senen tanggal 7 Maret 2011 api yang menghanguskan rumah masyarakat Jalan Pemuda 1 RT.001 dan RT.002 RW.02 Kelurahan Rawamangun. Api diperkirakan membesar mulai pukul 22.00 wib bermula dari arus pendek listrik di rumah Bapak Saragih dengan sangat cepat menjalar ke samping rumah lainnya, perumahan RT.001 dan RT.002 mayoritas terbuat dari papan kayu sehingga mempercepat laju api yang mengamuk tersebut.

Masyarakat setempat sontak terkaget dengan kedatangan api yang membesar seolah melahap dengan laparnya rumah-rumah penduduk, teriakan “kebakaran kebakaran” mengundang dan membangunkan masyarakat di malam hari, sebagian lari untuk menyelamatkan barang-barang berharga, sebagian lagi lari untuk memadamkan api, sebagian lagi lari untuk melihat api.

Malam itu tidak seperti malam biasanya yang setiap malam sepi karena masyarakat telah tertidur, akan tetapi malam itu menjadi malam yang tidak pernah terlupakan. Disaat masyarakat beristirahat dengan santai, api justru meramaikan malam itu, menjadi malam yang ramai. Entah bagaimana dalam pikiran semua orang di malam itu ketika api sudah mulai tinggi dan membesar, orang dalam rumah panik berlari membawa barang-barangnya, seorang ibu lari membawa anak kecil yang tadinya tertidur, seorang ibu memapah wanita yang telah lanjut usia dengan jalan tergopoh-gopoh di tengah desakan warga yang berlari bolak-balik membawa barangnya masing-masing. Anak kecil pun bingung mereka dibawa kemana ketika orang tuanya menyelamatkan barang-barangnya. Pikiran pun jadi semakin tidak karuan manakala bunyi sirine pemadam kebakaran datang sekitar 40 menit tepatnya pukul 22.40 wib, ditambah lagi orang semakin berdesak-desakan di Jalan Assalam, jalan yang menuju Jalan Raya Pemuda 1, akses yang sangat baik untuk evakuasi, dan jalan baru arah Cempaka Putih–Pulogadung. Masyarakat mengevakuasi barang-barangnya di jalan-jalan raya yang dipastikan tidak terkena kobaran api.

Mata terpana melihat api merah, kulit pun terasa panas dan jantung berdetak tak karuan, saat si jago merah mendekati rumah. Bingung apa yang dilakukan melihat kepanikan orang, melihat api membumbung tinggi, melihat orang berlari, dan merasakan malam yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Bagaimana pun peristiwa ini mengundang bentuk solidaritas yang sangat kuat, ketika seseorang saudara yang rumahnya akan terbakar ikut membantu menyelamatkan barang-barang saudaranya, seorang dosen Universitas Negeri Jakarta dibantu oleh mahasiswanya yang kost dekat tempat kebakaran, dan juga mahasiswa dibantu mengevakuasi barangnya oleh temannya.

Melihat orang-orang yang lari menyelamatkan barang-barangnya, terdapat suatu ketidaksadaran dimana orang tidak bisa di kontrol, mereka tidak memikirkan rumah yang telah terbakar untuk segera dipadamkan akan tetapi memikirkan bagaimana barang-barang bisa diselamatkan, padahal dengan begitu banyak orang api bisa dipadamkan dengan cara manual, hal ini merupakan bentuk ketidaksadaran ketika menghadapi kepanikan.

Iringan tangis menjadi warna malam itu, gelap tanpa penerang cahaya listrik tapi terang oleh kobaran api. Masyarkat yang jauh hanya bisa menonton ketika api semakin menjalar ke rumah lainnya, suasana pun menjadi semakin ramai, selain sirine pemadam kebakaran, lampu rotator ikut mewarnai malam tragis itu.

Ketika selang pemadam kebakaran mulai masuk di perumahan hati dan pikiran mulai tenang, dengan bantuan masyarakat yang ikut mendistribusikan selang ke rumah-rumah, dan masyarakat mulai membantu memadamkan api dengan cara manual. Walaupun basah akibat selang air pemadam yang bocor dan semprotan air ke atas tidak menurunkan semangat memadamkan api agar tidak menjalar ke rumah lainnya. Dengan sistem estafet ember milik penduduk setempat direlakan untuk mengambil air yang tumpah dan tergenang di tanah, tidak terhitung berapa ember yang keluar dari rumah untuk menyiramkan ke rumah. Yang terpikirkan saat itu adalah bagaimana api tidak menjalar kerumah lainnya.

Ada beberapa orang yang mengintruksikan dari atas genteng rumahnya yang belum terbakar agar secepat mungkin menyiramkan air dibagian titik tertentu, sebagian ada yang menampung air dari kran rumahnya, dan sebagian lagi membantu memotong kayu yang mudah terbakar agar api tidak menjalar ke rumah-rumah yang dekat api. Malam itu berjalan cepat, api mulai padam pada pukul 02.00 wib. Sedikit bisa menghela nafas dan tenang ketika api mulai padam, akan tetapi turut perihatin kepada keluarga yang telah kehilangan rumahnya.

Melihat seseorang yang bajunya basah dan hitam kerena arang kayu yang terbakar, dan batuk karena asap kebakaran yang banyak, dan ada pula seseorang yang terluka tangannya akibat tersayat seng genteng, tertusuk paku, dan terjatuh karena memadamkan api.

Setelah kondisi dinyatakan aman, masyarakat yang mengevakuasi barang-barangnya yang jauh dari titik api, −kebanyakan dievakuasi di jalan-jalan− selain akses untuk mengamankannya mudah juga tempat yang sangat sulit dijangkau oleh api. Sebagian lagi banyak masyarakat yang menitipkan barangnya di tempat saudara-saudaranya. Apapun alat untuk mengamankan barang-barang, seperti pemulung yang mempunyai gerobak, menggunakannya sebagai sarana mengevakuasi barang dan dibawa ke jalan raya, ditempat kebakaran juga ada pangkalan truk yang disewakan sehari-harinya. Namun pada malam itu masyarakat menggunakan truk sebagai sarana menyelamatkan barang-barangnya. Terlihat banyak truk yang penuh dengan perabotan rumah tangga, baju, barang-barang elektronik, dan lainnya, truk tersebut ada di tengah jalan baru arah Cempaka Putih – Pulogadung.

Masyarakat mulai kembali menempati rumah-rumahnya yang nyaris terbakar, dengan membawa pulang kembali barang-barang yang mereka evakuasi. Bagi masyarakat yang masih memiliki tempat tinggal mereka bisa kembali menempatkan barang-barangnya, akan tetapi bagi masyarakat yang rumahnya telah tinggal dinding tembok, dengan cat terkupas dan hitam bekas terbakar, mereka hanya bisa menatap rumah mereka hangus terbakar.

Pilu dalam hati melihat tatapan kosong masyarakat Pemuda yang rumahnya terbakar, mentari mulai mengintip dari timur, banyak wisatawan bencana datang melihat peristiwa semalam. Masyarakat melihat-lihat puing-puing dan korban kebakaran yang memilah barang-barang yang hangus terbakar, mereka pikir bisa menemukan barang yang tersisa. Lebih memilukan lagi, liburan bagi anak sekolah yang buku dan seragam merak terbakar. Mereka sementara belajar dirumah tapi belajar tahan menghadapi cobaan.

Bentuk solidaritas untuk Korban Kebakaran Pemuda 1 tidak cukup hanya dalam bentuk material belaka. Segenap civitas akademika Universitas Negeri Jakarta (UNJ) turut berempati dengan membuka Posko di lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pemuda. Dalam kegiatanya mereka mengatasnamakan UNJ RESCUE, selama membuka posko dari tanggal 8-12 Maret 2011 bekerja sama dengan PMI Kota Jakarta Timur dan beberapa mahasiswa UNJ lainnya, antara lain kegiatannya berupa pengumpulan dana, bantuan berupa pakaian layak pakai, peralatan mandi, peralatan kebersihan, Dapur Umum khusus balita, trauma healing, dan bantuan berupa tenaga seperti kerja bakti membersihkan puing-puing. Posko UNJ RESCUE merupakan salah satu wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Socio Education

Merupakan Weblog tentang seputar materi ilmu sosial sebagai penunjang dan pelengkap edukasi.

Statistik Pengunjung

;

  © Design Blog 'Ultimatum' by Socio Education 2017

Back to TOP