;

Rabu, 15 Juli 2009

1. Sinopsis Perang Gaza

Ini adalah perang ketiga terbesar yang dilakukan antara bangsa Palestina dan warga Arab terhadap Israel. Agresi militer Israel atas Gaza yang dimulai 27 Desember 2008 begitu menghentakan warga dunia. Sebelumnya di tahun 1956 dan 1967, Israel nyaris tak tekalahkan, namun dalam perang ini Israel tak dapat menguasai Gaza yang telah ditargetkannya. Zionis Israel menyerang lokasi kecil, berpenduduk tak lebih dari 1,5 juta orang, dan dalam kondisi krisis lantaran blockade selama hampir dua tahun tanpa aliran listrik, makanan, obat-obatan, air bersih kecuali sangat sedikit sekali. Lebih dari 100 tank dikerahkan, 60 jet temput di terbangkan. Berton-ton bahan peledak dijatuhkan. Korban dalam 22 hari menembus angka 1000 orang dimana lebih dari 40% adalah anak-anak dan kaum perempuan. Kurang lebih 300an polisi Gaza meninggal akibat serangan udara, kehancuran terjadi dimana-mana, merah darah tercecer di jalan-jalan, jenazah bergelimpangan, potongan tubuh yang berserakan dan di sela-sela timbunan bangunan hancur. Teriakan manusia, tangisan anak-anak dan perempuan, kepanikan dimana-mana. Gedung pemerintahan, sarana dan insfrastruktur kota berkeping-keping. Masjid pun tinggal puing.
Hari demi hari agresi Israel bergulir. Korban terus berjatuhan dengan jumlah yang telah melebihi angka 1300 orang korban meninggal dan lebih dari 5000 korban luka. Israel mulai masuk Beit Lahiya, Jabaliya, dan Tel Hawa. Pemandangan tentang kepedihan dan keprihatinan dan duka di Gaza adalah satu dari dua fenomena besar di tanah syuhada. Berlomba mencari mati syahid. Ini suasana yang jarang terjadi, ketika tugas-tugas berbahaya yang berisiko mengorbankan nyawa, justru menjadi tugas yang sangat diburu. Kompetisi meraih mati syahid itu, dikatakan oleh Abu Jehad, salah satu komando lapangan Al Qassam. ”terkadang kami sudah memperkirakan bila tentara Zionis Israel akan masuk ke sejumlah rumah warga. Ketika itulah , kami memerlukan seorang pemburu mati syahid untuk meledakkan rumah beserta seluruh tentara di dalamnya. Untuk tugas ini, kami didatangi oleh puluhan pemuda dan kaum perempuan yang meminta ditunjuk sebagai eksekutor bom syahid. Bahkan terkadang, kami terpaksa mengundi mereka setelah sulit bagi kami untuk memilih mereka. Siapa saja yang jatuh undian padanya, dialah yang akan mendapat mati syahid.”

 
2. Analisa Bunuh Diri Durkheim

Dari sinopsis perang Gaza yang di ceritakan di atas dapat di analisis dengan teori bunuh diri yang di definisikan oleh Durkheim. Durkheim mengidentifikasikan tiga tipe bunuh diri, yaitu: egoistik, anomik, dan altruistik.
Tipe altruistik lebih cenderung kepada bunuh diri yang dilakukan pada para pejuang di Palestina. Jika kita telaah menurut definisi dari tipe bunuh diri altruistik ini yaitu, tingginya tingkat integrasi menekankan individualitas ke titik dimana individu dipandang tidak pantas atau tidak penting dalam kedudukannya sendiri. Sebaliknya, individu itu diharapkan tunduk sepenuhnya terhadap kebutuhan-kebutuhan atau tuntutan-tuntutan kelompok yang menempatkan setiap keinginan individu pada posisi lebih rendah yang mengurangi kesejahteraan kelompok dan mengganggu kehidupannya. Kalau tingkat solidaritas itu cukup tinggi, sang individu itu tidak kesal terhadap ketaatan pada kelompok ini, malah sebaliknya merasa sangat puas dan mengorbankan diri untuk kebaikan kelompok yang leih besar[1] . Seperti contohnya salah seorang pejuang palestina yang mengajukan diri sebagai eksekutor bom syahid yang siap meledakkan dirinya pada saat rumahnya itu diserang oleh pasukan israel. Tindakan yang semacam ini merupakan rasa solidaritas untuk negaranya. Karena dalam aturan yang dipercayainya merupakan tindakan yang mulia disisi Tuhan, jika pun mati sangatlah membantu perjuangan bangsanya dalam memerangi pasukan Israel. Itu artinya dirinya rela mati demi membantu dan ikut berjuang di kelompoknya.
Mereka menyebutnya dengan ”pemburu syahid” dimana warga Palestina yang siap mati demi membela dan berjuang kepada agama islam dan bangsa Palestina. Sebab di garis depan, di parit-parit jihad, di ratusan lorong-lorong jihad, ada ratusan bahkan ribuan para pejuang yang melakukan strategi pertahanan kota. Pemburu mati syahid, al-istisyahadiyun, mereka menghabiskan waktunya berhari-hari dengan mengulang-ulang bacaaan al-quran yang memang telah terukir dalam hati dan dada. Mereka bertasbih, berdzikir, berdo’a selama di parit-parit, di lorong-lorong bawah tanah, di perbatasan. Sebagian, luas lorong bawah tanah itu tak lebih dari dua meter. Di hati mereka berkumandang kuat semangat yang sama, ini adalah jihad, untuk meraih kemenangan, atau mati syahid[2] . Jadi jelaslah bahwa bunuh diri yang dilakukan warga Palestina adalah ”Jihad” dan termasuk dalam tipe bunuh diri ”Altruistik”

 

______________________

1 Doyle Paul Johnson di indonesiakan oleh Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1994) hlm. 193 

2 Muhammad Lili Nur Aulia, Dari Jalur Gaza: Ayat-Ayat Allah Berbicara, (Jakarta: Tarbawi Press, 2009) hlm. 51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Socio Education

Merupakan Weblog tentang seputar materi ilmu sosial sebagai penunjang dan pelengkap edukasi.

Statistik Pengunjung

;

  © Design Blog 'Ultimatum' by Socio Education 2017

Back to TOP