;

Sabtu, 27 Juni 2009

Relevansi semangat etika protestan dalam masyarakat saat ini

Etika protestan dan spirit kapitalisme, yang judul aslinya Die Protestantische und der Geist des Kapitalismus, tak diragukan lagi adalah salah satu karya tulis termasyhur sekaligus kontroversial dalam ilmu pengetahuan sosial modern. Karya tulis ini pertama kali diterbitkan dalam artikel dua bagian pada 1904-1905 di Archiv fur Sozialwissenschaft und Sozialpolitik dimana Weber menjadi salah satu editor. Begitu diterbitkan, karya ini langsung menjadi bahan perbincangan kritis. Weber turut aktif dalam perbincangan itu. Hingga 70 tahun kemudian, debat tentang karya ini menjadi bahan rujukan utama bagi ilmu-ilmu sosial modern. Dalam tesis utama karyanya ini adalah bahwa aspek-aspek tertentu dalam etika protestan merupakan perangsang kuat dalam meningkatkan sistem ekonomi kapitalis dalam tahap-tahap pertumbuhannya. Pengaruh yang merangsang ini dapat dilihat sebagai suatu elective affinity (konsistensi logis dan pengaruh motivasional yang bersifat mendukung secara timbal balik) antara tuntutan etis tertentu yang berasal dari kepercayaan protestan dan pola-pola motivasi ekonomi yang perlu untuk pertumbuhan sistem kapitalisme.[1] Etika protestan memberi tekanan pada usaha menghindari kemalasan atau kenikmatan semaunya, dan menekankan kerajinan dalam melaksanakan tugas dalam semua segi kehidupan, khususnya dalam pekerjaan dan kegiatan ekonomi pada umumnya.

Di masa sekarang khususnya di masyarakat Indonesia tingkat pengangguran mencapai 9, 39 juta. Sementara jumlah penduduk yang bekerja mencapai 102,55 juta orang. Pekerja yang pendidikannya hanya dari SD ke bawah sudah mengalami penurunan sebanyak 1,04 juta dalam setahun terakhir, tetapi jumlahnya masih tetap mendominasi. Namun pengangguran yang dari pendidikan SLTA lebih banyak ketimbang dari pendidikan SD ke bawah. Kebanyakan yang dari pendidikan SD ke bawah bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tukang kayu, tukang batu, dan Cleaning Service.[2]
Dari data diatas memperlihatkan bahwa Geist atau etos (semangat) sudah nampak dari masyarakat Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Geertz adalah sikap mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Etos adalah aspek kualitatif yang bersifat menilai. Maka dalam hal ini bisa dinyatakan, apakah kerja dalam hal yang lebih khusus, usaha komersial, dianggap sebagai suatu keharusan demi hidup, atau sesuatu yang imperative dari diri, ataukah sesuatu yang terikat pada identitas diri yang telah diberikan oleh agama.[3] Rasa ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap agama dinilai menjadi faktor penyemangat untuk melakukan usaha demi tercapainya kelangsungan hidup. Masyarakat Indonesia menilai bahwa ajaran Calvin tentang takdir dan nasib itu menurut Weber adalah merupakan kunci utama dalam hal menentukan sikap hidup dari para penganutnya. Takdir kepada manusia telah ditentukan oleh Tuhan jauh sebelumnya. Apakah manusia itu terpilih atau terkutuk. Calvin menyerukan untuk melakukan kerja keras guna menghindarkan kutukan dari Tuhannya. Dengan cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan ialah “memenuhi kewajiban yang ditimpakan kepada individual oleh kedudukannya di dunia”. Ini yang oleh Calvin disebut Beruf atau Calling. Beruf atau panggilan adalah konsepsi agama, tentang tugas yang ditentukan oleh tuhan. Dalam islam ikhtiar lahiriyah dan batiniyah adalah perlu, makanya masyaraka Indonesia yang mayoritas beragama muslim melakukan ikhtiar lahiriyah guna mencapai kelangsungan hidupnya. Baik itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tukang kayu atau Cleaning Service, hal itu diyakini akan mendapatkan rizki dari sang ilahi jika kita mau bekerja keras.
Disisi lain terlihat akan sifat bermalas-malasan dan hidup berfoya-foya dari masyarakat Indonesia, kebanyakan mereka adalah dari kaum muda yang seharusnya menjadi penopang keluarga dan bangsa malahan kehidupan mereka di buang tanpa makna. Kita teringat akan nasihat Benjamin Franklin “nasihat kepada saudagar muda”.

Ingatlah waktu adalah uang. Orang menghasilkan Rp.100.000 sehari dari kerjanya, dan pergi jalan-jalan atau duduk bermalasan setengah hari walaupun dia hanya membelanjakan Rp.50.000 selama berjalan-jalan atau bermalas-malasan tidak boleh memperhitungkan hanya itulah pengeluaranya, sebenarnya dia menghabiskan atau lebih tepat membuang-buang Rp.50.000 lagi dari sisa uangnya.
Ingatlah keredit adalah uang. Jika seseorang membiarkan uangnya tetap berada di tangan kita pada saat harus dikembalikan, maka dia kehilangan bunga yang seharusnya didapat dari kita atau sejumlah uang yang dapat kita hasilkan selama itu. Ini bisa mencapai suatu jumlah besar kalau seseorang mendapatkan kredit bagus dan besar dan memanfaatkannya dengan baik.
Ingatlah, bahwa uang itu bersifat berkembang dengan pesat. Uang beranak dan anak-anaknya menghasilkan anak, dan seterusnya. Jika kita menggunakan Rp.100.000 untuk digunakan dagang maka kita akan menghasilkan anak alias keuntungan uang dari hasil dagang tersebut. Dan dari hasil tersebut dapa dipergunakan untuk melakukan perdagangan lagi yang lebih besar. Maka dengan begitulah uang yang kita pegang dapat beranak dan berkembang lebih banyak lagi.[4]

Pernah suatu hari penulis bertemu dengan salah satu orang Tiong Hoa yang memiliki toko di beberapa tempat dan terbilang orang Tiong Hoa itu selalu sukses dalam usahanya. Bilang saja Si Ahong, dia menjelaskan akan cara dagang dia, ketika dia menghasilkan seratus ribu dari hasil dagangnya maka penghasilan tersebut di bagi menjadi tiga. Pertama untuk modal berikutnya, kedua untuk membeli kebutuhan atau peralatan dagang yang belum ada di tokonya dan yang ketiga untuk makan. Si Ahong juga menjelaskan, jika ada pembeli dari kelurga dekatnya sendiri janganlah di kasih gratis karena akan membuat kerancuan dalam buku keuangan dagangnya. Namun oleh masyarakat kita hal ini belum bisa dilakukan karena pada umumnya kebudayaan di Indonesia lebih mengarah ke kekeluargaan masih tradisional, dan jika ada keluarga yang mau membeli dagangan maka oleh orang Indonesia di kasih gratis. Seperti yang dijelaskan Weber protestanisme merupakan satu dobrakan utama terhadap tradisi. Sama juga halnya, dengan munculnya kapitalisme membutuhkan suatu keadaan dimana sejumlah tekanan tradisional terhadap kegiatan ekonomi itu hilang. Namun yang ditekankan Weber adalah bahwa ide-ide tertentu dalam protestanisme memperlihatkan suatu perubahan dari tradisionalisme ke suatu oientasi yang lebih rasional.[5] Menurut Ahong, kita boleh jadi keluarga tapi kalau dalam masalah ekonomi harus ada perbedaan antara pembeli dan penjual. Cara yang dijelaskan Ahong kepada penulis merupakan sebagai wujud dari semangat kapitalisme untuk lebih mementingkan ekonomi ketimbang urusan lainya.

____________________________

1. Doyle Paul Johnson di indonesiakan oleh Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1994) hal. 238

3. Taufik Abdullah (Editor), Agama, Etos Kerja da Perkembangan Ekonomi, (Jakarta: Buku Obor, 1978) hal. 3

4. Stanislav Andreski, Alih bahasa: Hartono H, Max Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989) hal.107-108

5. Doyle Paul Johnson di indonesiakan oleh Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1994) hal. 242

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Socio Education

Merupakan Weblog tentang seputar materi ilmu sosial sebagai penunjang dan pelengkap edukasi.

Statistik Pengunjung

;

  © Design Blog 'Ultimatum' by Socio Education 2017

Back to TOP