;

Jumat, 13 Maret 2009

Auguste Comte

Auguste Comte lahir di Montpellier, Perancis, tahun 1798. Keluarganya beragama katolik dan berdarah bangsawan, tetapi Comte tidak melihatkan loyalitasnya. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di Paris dan lama hidup disana, dimana dia mengalami suatu pergolakan sosial, intelektual dan politik. Comte seorang mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, yang meninggalkan Ecole sesudah seorang mahasiswa yang memberontak dalam mendukung Napoleon dipecat.

Comte memulai karir profesionalnya dengan memberi les dalam bidang metematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan dalam matematika. perhatian yang sebenarnya adalah pada masalah-masalah kemanusiaan dan sosial. Minat ini mulai berkembang dibawah pengaruh Saint Simon, yang memperkerjakan Comte sebagai sekretarisnya dan dengannya Comte menjalin kerjasama erat dalam mengembangkan karya awalnya sendiri. Kepribadian kedua orang ini saling melengkapi: Saint Simon orang yang tekun, aktif, bersemangat dan tidak disiplin. Comte seorang metodis, disiplin dan refleksif. Tetapi sesudah tujuh tahun, pasangan ini pecah karena perdebatan mengenai kepengarangn karya bersama, dan Comte lalu menolak pembimbingnya ini.

Sesudah hubungan dengan Saint Simon retak, dia tetap sebagai orang di luar akademik. Sebagian hal ini mungkin disebabkan sifat-sifat kepribadiannya yang menderita gejala paranoid yang berat. Kadang-kadang kegilaanya itu diarahkan ke teman-teman dan lawan-lawannya secara kasar. Pada suatu waktu segera seusai awal serangkaian kuliah-kuliahnya dalam suatu kursus privat, dia menderita gangguan mental yang serius dan dimasukkan ke rumah sakit karena penyakit "keranjingan" (mania). Tak lama dipulangkan dari rumah sakit (tanpa sembuh) dia gagal merenggut nyawanya sendiri, dengan membuang diri ke sungai Seine dan sesudahnya terus berada dalam suatu keadaan hati yang remuk-redam.

Pergaulan Comte dengan gadis-gadis juga mendatangkan malapetaka, tetapi relevan untuk memahami revolusi dalam pemikiran Comte, khususnya perubahan dalam tekanan tahap-tahap akhir kehidupannya dari positivisme ke cinta. Dia nikah dengan bekas pelacur bernama Caroline Massin, seorang wanita yang lama menderita, yang menanggung beban emosional dan ekonomi dengan Comte. Sesudah Comte keluar dari rumah sakit, dengan sabar istrinya berusaha memenuhi kebutuhan Comte, dan merawatnya sampai sembuh meskipun tanpa penghargaan Comte serta kadang-kadang disertai perlakuan kasar. Setelah pisah untuk sesaat lamanya, istrinya pergi dan membiarkan dia sengsara dan gila.

Tahun 1844, dua tahun setelah dia menyelesaikan enam jilid karya besarnya yang berjudul Course of Positive Philosophy Comte bertemu dengan Clothilde de Vaux, seorang ibu yang mengubah kehidupan Comte, dia kadang ditinggalkan suaminya ketika bertemu dengan Comte untuk pertama kalinya. Comte langsung mengetahui bahwa perempuan itu bukan hanya sekedar perempuan lain saja. Malang, Clothilde de Vaux tidak terlalu meluap-luap seperti Comte, walau sering berkirim surat cinta berapa kali, Clothilde menganggap hubungan itu hanyalah persaudaraan saja. Akhirnya dalam suratnya, Clothilde menerima hubungan intim suami-istri. Hubungan intim rupanya tidak jadi terlaksana tetapi perasaan mesra sering diteruskan lewat surat menyurat. Clothilde mengidap penyakit TBC dan hanya beberapa bulan sesudah ketemu Comte dia meninggal. Kehidupan Comte lalu tergoncang, dia bersumpah untuk membaktikan hidupnya untuk mengenang "bidadari"-nya itu.

Dalam karya bagian kedua yakni System of Positive Politics menjadi suatu bentuk perayaan cinta, tetapi dengan keinginan besar yang sama, yakni membangun sistem menyeluruh, seperti yang tercermin dalam karyanya yang dahulu. Karena dimaksudkan untuk mengenang "bidadari"-nya itu, karya Comte dalam "politik positif" itu didasarkan pada gagasan bahwa kekuatan yang sebenarnya mendorong orang dalam kehidupannya adalah perasaan, bukan pertumbuhan inteligensi manusia yang mantap. Dia mengusulkan suatu reorganisasi masyarakat dengan sejumlah tata cara yang dirancang untuk membangkitkan cinta murni dan tidak egoistis, demi "kebesaran kemanusian". Tujuannya adalah untuk mengembangkan suatu agama yang baru yaitu "Agama Humanitas" yang merupakan sumber-sumber utama bagi perasaan-perasaan manusia serta mengubahnya dari cinta diri dan egoisme intelektual ajaran-ajaran agama tradisional yang bersifat supernaturalistik. Dengan kata lain, agama humanitas harus sesuai dengan standar-standar intelektual serta persyaratan positifisme.

Sementara agama humanitas merupakan objek utama pemujaan dalam agama baru itu, dalam konsepnya wanita atau kewanitaan akan disembah sebagai perwujudan kehidupan perasaan dan sebagai pernyataan yang paling lengkap dari cinta dan altruisme. Clothilde disini menggantikan bunda maria serta menjadi perwujudan "wanita ideal". Ia menyatakan dirinya sebagai "pendiri agama, imam agung humanitas" dengan menunjukan jalan-jalan yang sangat terperinci.

Sumbangan kreatif yang khas dari Comte terhadap perkembangan sosiologi dilihat Martindale sebagai suatu sintesa antara dua perspektif yang saling bertentangan mengenai keteraturan sosial: positivisme dan organisme. Orang positivis percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengadakan perubahan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu. Hasilnya akan berupa suatu takhayul, kekuatan, kebodohan, paksaan, dan konflik akan dilenyapkan. Titik pandangan ini sangat mendasar dalam gagasan-gagasan Comte mengenai kemajuan yang mantap positivisme.

Sumbangan pikiran penting lain yang diberikan Comte ialah pembagian sosiologi kedalam dua bagian besar: statika sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dynamics). Statika mewakili stabilitas, sedangkan dinamaika mewakili perubahan. Dengan memakai analogi dari bologi, Comte menyatakan bahwa hubungan antara statika sosial dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi.

________________________

Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi: klasik dan modern I. Terjemahkan Robert M.Z Lawang. Jakarta: Gramedia, 1994.

Manuel, Frank E., The Propeths of Paris. Camridge, Mass: Harvard University Press, 1962.

Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi. Jakarta: FE-UI, 1993.

1 komentar:

  1. boleh tak bagituau sumbangan auguste comte??

    BalasHapus

Socio Education

Merupakan Weblog tentang seputar materi ilmu sosial sebagai penunjang dan pelengkap edukasi.

Statistik Pengunjung

;

  © Design Blog 'Ultimatum' by Socio Education 2017

Back to TOP